Namaku Luna. Aku selalu Galau. Kenapa? Lihat saja, orang yang aku cintai tidak mencintaiku. Aku hanya bisa diam membisu ketika bersamanya dan pacarnya. Lebih tepatnya, aku hanya sahabatnya yang berguna untuk kehidupannya namun tidak lebih. Namanya Raka. Aku sangat sayang sekali sama dia. Tapi, apakah dia sayang sama aku? mungkin, jawabannya tidak!
“hai” sapaku kepada Raka.
“hai juga” Raka membalas sapaanku sangat singkat.
“Gea ke mana?” tanya Raka. Uhhh. Gea lagi. Gea lagi! emangnya gak ada nama selain Gea?
“hai juga” Raka membalas sapaanku sangat singkat.
“Gea ke mana?” tanya Raka. Uhhh. Gea lagi. Gea lagi! emangnya gak ada nama selain Gea?
Aku berjalan menuju rumah di seberang sana. Rumahku berdekatan dengan sekolah. Ku lihat Raka sedang berbincang dengan Gea di seberang sana.
“uhh. Mereka selalu lengket kayak perangko!” ujarku lemah.
“uhh. Mereka selalu lengket kayak perangko!” ujarku lemah.
Ku lihat sosok di sana seperti melambai. Sangat jelas sekali ketika dia memanggil namaku, “Lun, sini.” ujar Gea.
Aku risi sendiri. Aku, ke sana? palingan nanti jadi nyamuk! Ketika sempat menolak, akhirnya aku menghampiri mereka.
Aku risi sendiri. Aku, ke sana? palingan nanti jadi nyamuk! Ketika sempat menolak, akhirnya aku menghampiri mereka.
Tega sekali dia! Lihat mata aku berkaca-kaca! kamu gak ngerti banget perasaan aku hah! puas kamu bikin aku nangis? aku tahu, aku gak secantik kamu! aku hanyalah seorang gadis SMA yang berkepang dua dan memakai kacamata, memang aku cupu! tapi, apakah seorang gadis cupu selamanya sendiri? cupu juga manusia kan? Aku menyesal menghampiri Raka dan Gea. Kenapa? mereka mengajakku untuk menghampiri mereka hanya untuk menunjukkan betapa mesrahnya mereka. Itu sangat menyakitkan. Sudahlah Gea! Aku gak suka lihat itu.
—
“tumben gak sama Raka?” kata Danu, dia teman yang paling menyebalkan dalam hidupku.
“apaan sih! please aku cape nanganin orang gila kayak kamu” kataku langsung meninggalkan dia.
Aku benci dia. Benci datang dari hatiku. Bukan karena perbuatannya, tapi karena keegoisanku setiap melihat dia. Huhh! gak suka sama dia.
“apaan sih! please aku cape nanganin orang gila kayak kamu” kataku langsung meninggalkan dia.
Aku benci dia. Benci datang dari hatiku. Bukan karena perbuatannya, tapi karena keegoisanku setiap melihat dia. Huhh! gak suka sama dia.
Gea datang, semakin dekat dan akhirnya ada di hadapanku. Aku hanya bisa terbujur kaku ketika memberi sepucuk surat dari Raka kepadaku
“hey! kau sahabat sejatiku! datang yah! pleaseee.. ke hari jadi aku dan Gea di taman nanti sore!”
“surat tak berguna” kataku sambil menyobek surat itu.
Aku tak perlu menghadiri pesta kecil itu. Toh, aku ada dan tidak ada pun tak akan berguna di mata Raka dan Gea. Sudah cukup! aku ingin pergi dari kehidupannya! aku ingin melupakan sosok Raka yang tega membiarkan aku gila sendiri olehnya.
“hey! kau sahabat sejatiku! datang yah! pleaseee.. ke hari jadi aku dan Gea di taman nanti sore!”
“surat tak berguna” kataku sambil menyobek surat itu.
Aku tak perlu menghadiri pesta kecil itu. Toh, aku ada dan tidak ada pun tak akan berguna di mata Raka dan Gea. Sudah cukup! aku ingin pergi dari kehidupannya! aku ingin melupakan sosok Raka yang tega membiarkan aku gila sendiri olehnya.
Pagi-pagi sekali aku ke rumah Raka. Jam 7, pagi sekali kan? ini hari minggu. Kotak pos di rumah Raka kosong. Ku taruh surat untuknya di kotak mungil itu. Sungguh! ini sangat menyakitkan.
“hey! kamu Luna?” tanyanya sambil meraih piyama miliknya di atas kursi.
“apa ini?” kata Raka. Dia lansung membaca surat milik Luna.
“hey! kamu Luna?” tanyanya sambil meraih piyama miliknya di atas kursi.
“apa ini?” kata Raka. Dia lansung membaca surat milik Luna.
“jika ada seseorang yang menyuruhku untuk memilih antara kamu dan bulan, aku lebih memilih kamu. Kenapa? bulan hanya bisa menemaniku pada malam tiba. Sementara kau? selalu menemani hariku setiap hari. Kau bagaikan seseorang yang sangat berharga dalam hidupku. Namun, setelah kehadirannya, kau berubah! aku hanya bisa tersenyum melihat itu semua.
Kau tahu? aku akan pindah sekolah ke sekolah lain. Aku sudah muak dengan tingkah kalian setiap hari yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Dan andai burung bisa bicara, akan ku beri tahu dia bahwa tidak ada sesuatu yang lebih berarti selain mencintai dan menyayangimu.”
Kau tahu? aku akan pindah sekolah ke sekolah lain. Aku sudah muak dengan tingkah kalian setiap hari yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Dan andai burung bisa bicara, akan ku beri tahu dia bahwa tidak ada sesuatu yang lebih berarti selain mencintai dan menyayangimu.”
Cerpen Karangan: Naila Asya Muhfi
Blog: nailaasyamuhfi.blogspot.com
Facebook : Naila Asya Muhfi II
Nama: Naila Asya Muhfi
Twitter: @nailasyamuhfi
Ig: @nailaamuhfii
Blog: nailaasyamuhfi.blogspot.com
Facebook : Naila Asya Muhfi II
Nama: Naila Asya Muhfi
Twitter: @nailasyamuhfi
Ig: @nailaamuhfii
0 komentar:
Posting Komentar
Di harap memberikan komentar yg baik.....
Agar Blog ini bisa lebih maju