Harus Ku Akhiri
Aku belajar arti sebuah kesetiaan dari pengkhianatanmu. Aku belajar arti kejujuran dari kebohonganmu. Aku belajar arti kasih sayang tulus dari fatamorgana cintamu. Aku belajar arti sebuah senyum dari luka yang kau goreskan untukku. Aku tahu kau tak mencintaiku tapi aku lebih baik mencintai dan terluka, daripada bersembunyi ketakutan dalam hidup tanpa cinta. Karena cinta memang tidak menjamin kebahagiaan, tetapi tidak ada kebahagiaan tanpa cinta.
—
Siang itu. Tak sengaja aku melihat kekasihku Alex sedang mengendarai motor gedenya bersama seorang wanita yang tidak aku kenal. Aku yang kebetulan sedang menyetir Mobil hanya bisa pasrah melihatnya. Seerrr… darahku langsung turun hingga membuat tubuhku lemas pada saat melihat kekasih yang sangat aku cintai berselingkuh dengan wanita lain. Tiba-tiba, lampu lalu lintas berwarna merah sedang menyala. Alex dan wanita itu berhenti tapat di samping Mobilku, ia menunggu lampu berubah menjadi hijau sama sepertiku. Ternyata benar apa kata teman-temannya perihal Alex selingkuh dengan wanita lain. Pada saat itu aku memang tidak percaya. Tapi sekarang aku sudah percaya karena melihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku rasa tidak ada jalan lain, selain mengakhiri hubungan yang sudah 7 tahun terjalin lamanya ini.
Entah ke mana yang mereka tuju pada saat itu, padahal tinggal 10 detik lagi lampu merah berganti menjadi lampu Hijau. Tetapi sebelum warna lampu itu berganti, Alex dan wanita itu langsung tancap gas menerobos lampu merah. Tanpa mereka sadari, dari arah samping datang sebuah truk besar yang melaju dengan kencang. Alhasil kecelakaan itu pun tak bisa terhindari. Aku sangat terkejut dan tidak percaya melihat kecelakaan itu di depan mataku sendiri.
Semua orang di sekitar langsung tercengang melihat kecelakaan yang terjadi itu. Terlihat beberapa orang berlarian untuk menyaksikannya, dan sebagian orang lainnya sibuk untuk menghubungi polisi dan Mobil Ambulan. Menurut kalian Apa yang harus aku lakukan? Menolong kekasihku yang berselingkuh itu, atau membiarkannya saja? Ya. Aku membiarkannya.
Dalam hatiku berkata. “kau pantas mendapatkannya, itu balasan karena kau mengkhianatiku.”
Tak lama kemudian, Lampu berganti menjadi Hijau. Aku langsung memalingkan pandanganku ke depan, aku pun langsung tancap gas menuju kantor, karena ada Meeting penting yang harus aku hadiri.
Di kantor, Aku langsung disambut oleh sekretarisku. Ia membawakan beberapa berkas untuk aku Meeting nanti. Sesampainya di ruang Meeting, beberapa Staff bahkan Bosku sudah menunggu.
“Maaf Saya terlambat” Ucapku sambil memasuki ruang Meeting lalu duduk di kursi yang sudah disediakan.
“Tidak apa-apa, aku dengar di Jalan Tol terjadi kecelakaan, karena itu kan kamu telat datang ke mari” Ucap salah satu rekan kerjaku.
Aku hanya mengangguk perlahan dan bersikap seperti biasa seolah-olah kecelakaan itu tidak ada hubungannya denganku. Padahal aku tahu, kecelakaan itu mengakibatkan Alex di dalamnya. Dan hatiku sangat sakit terutama saat melihatnya dengan wanita lain.
Beberapa jam saat Meeting berlangsung, tiba-tiba aku diganggu oleh suara ponselku yang berdering. Ternyata salah satu teman Alex bernama Rama menelponku. Aku langsung meminta izin ke luar dari ruangan. Sesampainya di luar aku langsung mengangkat teleponku. Aku tak heran kenapa Rama menelponku dan aku sudah tahu dengan apa yang akan dibicarakannya dalam telepon.
“Hallo Vania” Ucapnya gelisah dengan napas yang tidak beraturan.
“Iya? Ada Apa Ram?” sahutku santai.
“Van, gawat Van. Lo harus cepat ke Rumah sakit Van. Alex kecelakaan.” Ucapnya kembali.
Aku langsung terdiam. Aku bingung harus mengatakan Apa? Karena aku memang sudah tahu perihal itu.
“Van! Hallo Vania” Panggil Rama kembali.
Aku langsung tersadar lalu menjawab kembali teleponnya.
“Iya, Iya. Gue segera ke sana” Ucapku yang sok panik.
“ya udah gue tunggu lo. Cepat ya” sambung Rama lalu menutup teleponnya.
Kemudian, aku pun kembali masuk ke ruang Meeting. Aku langsung meminta Izin untuk permisi pulang kepada Bos.
“Pak, Maaf sepertinya saya tidak bisa ikut Meeting sampai selesai. Nanti laporan saya akan dijelaskan oleh Sekretaris saya” Ucapku.
“ya sudah kalau begitu. Silahkan kamu pergi.”
“terima kasih Pak.”
Aku langsung mengambil tasku, lalu ke luar dari ruang Meeting.
Beberapa saat kemudian, Aku sampai di rumah sakit. Aku langsung menuju ruang UGD. Kulihat ketiga teman Alex yaitu Rama, Andi dan Rian sedang duduk di ruang tunggu dengan raut wajah mereka yang berbagai macam. Aku langsung berjalan ke arah mereka dengan memasang raut wajah sedihku.
“Vania” Ucap Rama sambil berdiri karena melihat kedatanganku. Andi dan Rian pun juga ikut berdiri. Kemudian aku melihat Alex yang berada di dalam ruang UGD dari celah pintu. Terlihat beberapa Dokter sedang sibuk menanganninya.
“Van lo yang sabar ya” Ucap Rian sambil mengelus-elus pundakku.
Tak tahan menahan sesak di dada. Akhirnya, air mata yang berlinang di pelupuk mataku terjatuh juga dan mengalir di kedua pipiku.
“Vania sebenarnya…” Ucap Rama.
“Gue udah tahu kok” potongku.
“Apa?” sahut Rama kembali.
“Gue udah tahu kejadian semuanya, kejadian yang menimpa Alex. Bahkan gue ngelihat sendiri dengan mata kepala gue.”
“Jadi lo udah tahu semuanya. Yang menimpa Alex sama Wanita itu?” Ucap Rama kembali.
“Iya” sahutku.
“Alex memang pantas mendapatkan ini, Ini hukum karma namanya” Ucap Rian kesal.
Sontak Andi langsung menyenggol Rian untuk menghentikannya agar ia tidak berkata yang macam-macam tentang Alex.
Tiba-tiba, Dokter pun ke luar dari Ruang UGD. Rama langsung menanyakan perihal keadaan Alex.
“Dokter, bagaimana teman saya Dokter?” Tanya Rama.
“Ia termasuk salah satu orang yang beruntung, benturan di kepalanya tidak terlalu fatal. Ia cukup dirawat secara Intensif, mungkin untuk minggu yang akan datang ia sudah boleh pulang. Untuk beberapa hari ini. Biarkan ia dirawat di Rumah sakit” Jawab Dokter.
“syukurlah” Ucap Rama lega.
Aku pun cukup lega mendengarnya, karena bagaimana pun aku masih peduli dengannya. Tak lama kemudian Suster perawat ke luar dari dalam Ruang UGD dan menghampiri kami.
“Pak, Biaya Administrasi bisa dibayarkan di Resepsionis, terima kasih” Ucapnya pada Rama, Andi dan Rian.
“Baik Suster” sahut Rama.
Rama, Andi dan Rian pun langsung mengikuti Suster tersebut ke tampat Resepsionis. Tinggallah aku seorang diri di depan Ruang UGD. Penasaran akan keadaan Alex, aku pun masuk ke dalam Ruang UGD tersebut. Dengan perlahan aku melangkahkan kaki dan mendekat ke arah Alex. Ku lihat kepalanya yang dibalut dengan perban dan tangannya yang penuh dengan luka. Aku langsung menggenggam erat tangannya. Air mataku pun kembali berlinang.
“Kenapa sih lo khianati gue. Apa salah salah gue sama lo? Kenapa lo nggak bisa jaga kesetiaan gue? Kenapa Lex?, kenapa?” Ucapku kesal pada Alex yang tidak sadarkan diri.
“gue sebenarnya udah tahu semua ini dari teman-teman lo. Tapi gue berusaha untuk nggak percaya, karena gue sayang sama lo. Tapi kali ini, gue harus ngakhiri hubungan kita.” Ucapku kembali.
Tak ingin berlama-lama di dalam Ruang UGD yang membuat hatiku semakin hancur, aku pun ke luar dari ruangan tersebut. Rama, Andi dan Rian yang baru akan masuk, tampak terkejut melihat aku ke luar dengan air mata yang mengalir di pipiku. Mereka langsung mengahadang kepergianku.
“Vania, tunggu” Ucap Rama.
Dengan Air mata yang terus mengalir bahkan semakin deras, aku berkata dan mengungkapkan persaanku kepada Rama, Andi dan Rian.
“Gue udah nggak tahan. Gue nggak bisa ngelanjutin hubungan ini lagi sama Alex. Nggak ada yang bisa gue buat lagi selain mutusin semuanya, kurang setia apa gue sama dia?” Ucapku meluapkan perasaanku.
Kemudian, aku mengambil surat yang ada di dalam tasku, aku memang ingin berikan surat ini kepada Alex. Surat ini aku buat pada saat setelah aku mengetahui Alex selingkuh dan setelah kecelakaan itu terjadi.
“kalau Alex udah sadar, tolong kasih surat ini ke dia ya, dan jangan berharap aku muncul lagi di hadapan kalian berempat, gue juga minta maaf sama kalian bertiga. Gue pergi. Selamat tinggal” Ucapku kembali.
Aku pun langsung pergi meninggalkan mereka.
“Vania” Panggil Andi.
“Vania. Pikir lagi dengan semua ini!” Ucap Rian.
Aku terus berjalan pergi dengan rasa yang teramat perih, aku harus rela meninggalkan kekasihku, atau lebih tepatnya mantan kekasihku dan ketiga sahabat terbaikku.
Aku pergi untuk menenangkan pikiranku, dalam beberapa hari kedepan, atau mungkin sampai waktu yang tidak ditentukan. Meninggalkan pekerjaan di kantor dan menghilang sejenak dari penatnya Ibu kota. Serta melupakan Ia yaitu Alex dan ketiga temannya. Di sinilah aku sekarang, di sebuah tempat di pinggir pantai. Tak ada seorang pun yang menggangguku di sini, inilah hidup yang selama ini aku cari. Tenteram, damai. Hanya ada aku seorang diri.
Aku terduduk di tepian pantai, bermain dengan ombak yang menerpaku dengan sendirinya. Menggunakan gaun putih sepanjang lutut dan rambut yang terkepang satu ke arah samping, aku juga tidak menggunakan pelindung kaki sama sekali, karena aku percaya tak akan ada satu pun yang menyakitiku di sini. Sesaat setelah aku puas bermain dengan ombak, Aku pun bangkit dari tempat dudukku. Kemudian Aku berjalan dengan niat untuk menyelusuri bagian dari pantai ini.
Tanpa ku sangka dan tanpa ku duga, Alex dan ketiga temannya muncul di hadapanku, hanya berjarak 3 meter dari tempat aku berdiri. Mereka kompak menggunakan baju dan celana berwarna putih senada dengan gaun yang aku kenakan. Aku sangat terkejut melihat kehadiran mereka terutama Alex. Aku melihat Alex memegang surat yang aku berikan terakhir kali.
“Vania” Panggilnya padaku.
Entah kenapa, mulutku susah sekali untuk berkata. Seolah-olah aku kehilangan kata-kataku. Kemudian Alex berjalan beberapa langkah ke arahku dengan meninggaklkan Rama, Andi dan Rian yang masih berdiri di belakangnya. Raut wajah Alex langsung berubah menjadi sedih diliputi dengan rasa menyesal.
“Vania. Sayangku, Maafkan Aku. Aku nyesal. Aku benar-benar meyesal. Aku mohon jangan pergi, jangan Akhiri hubungan kita” Ucap Alex memelas.
Entah kenapa air mataku tak ingin ke luar. Tak sedikit pun terbecak rasa sedih di raut wajahku.
“Maaf Alex. Keputusanku sudah bulat. Aku nggak bisa terus sama kamu lagi. Ini belum terlambat. dan Belum terlambat untuk kita berjalan sendiri-sendiri” Sahutku.
Tak ingin larut dalam suana sedih itu, Aku langsung membalikkan badanku dan mencoba untuk melangkah pergi. Tetapi dengan cepat, Alex menghadang kepergianku. Ia langsung memelukku dari belakang.
“kamu bilang belum terlambat? selama 7 tahun hubungan kita, kamu bilang belum terlambat untuk kita berjalan sendiri-sendiri. Apa maksud kamu?” ucap Alex dengan Air mata yang tiba-tiba menetes.
Aku pun menepis perkataannya, dengan membalikan fakta kebohongannya.
“7 tahun kamu bilang, apa kamu nggak sadar? selama 7 tahun itu juga kamu khianati cinta aku, kamu khianati kesetiaanku. Jadi apa bedanya saat kita berjalan sendiri-sendiri sekarang, dengan dulu, saat kamu jalan sama Wanita lain” Jawabku.
Aku langsung melepaskan pelukan Alex. Aku pun berbalik ke arah Alex. Dan sebelum aku pergi selamanya darinya, aku ingin menyempatkan untuk memberi kebahagiaan kecil untuknya.
“jangan sedih. Nggak seharusnya kamu sedih dengan perpisahaan ini, kita pasti sama-sama mendapatkan pasangan yang terbaik, percayalah” Ucapku sambil memegang kepala Alex dengan kedua tanganku.
Kemudian, aku mendekatkan diriku kepada Alex, aku pun mengecup bibirnya sebagai tanda perpisahan. Terlihat wajahnya yang sedih bercampur bingung. Tak lama kemudian aku pun melepaskan kedua tanganku darinya.
“Selamat Tinggal…” Ucapku kembali.
Lalu aku menjauh perlahan darinya, tak lupa aku memberi senyuman kepada Rama, Andi dan Rian. Alex langsung berlurut menyesali perbuatannya.
“Vania!!!” Teriak Alex Keras.
Aku langsung membalikkan tubuhku dan berlari sejauh mungkin, pergi masuk ke dalam kabut asap yang tebal dan menghilang. Menjauh dari mereka semua, karena semuanya telah aku akhiri.
Cerpen Karangan: Tri Fuji Astuti (Fuji Queenzi)
0 komentar:
Posting Komentar
Di harap memberikan komentar yg baik.....
Agar Blog ini bisa lebih maju