Senin, 21 Desember 2015

Aku Memilih Bersahabat

1

“Oke, ke depan, jalan terus.. Kamu jangan buka mata ya!”
“Kita mau ke mana sih Rick?”
“Sekarang buka mata kamu!” Feni membuka matanya.
“Selamat ulang tahun Fen!” ucapku sambil memegang kue ulang tahun. Feni tersenyum gembira, aku mengambil korek api dan menyalakan lilin yang berangka 16.
“Make a wish dulu, Fen” aku menyuruhnya, Feni pun memejamkan mata sambil tersenyum, ia membuka mata kemudian meniup lilin.
“Kamu minta apa coba?” tanyaku sambil menyenggol tangan Feni, “Aku minta habis ini, aku ditraktirin makan, hahaha” jawabnya sambil tertawa, dan aku pun ikut tertawa.
Malam ini, aku sengaja merayakan ulang tahun Feni di cafe, suasana yang tenang, dan wajah Feni yang bersinar karena terkena cahaya lilin-lilin di atas meja, seakan terlihat cantik bagiku. Beberapa orang yang lewat pun, serasa hanya angin lewat saja, malam ini benar-benar hanya milik kami berdua. Di saat suasana lagi tenang, dan aku lagi makan sama Feni sambil bercanda gurau, tiba-tiba Feni mengalihkan pembicaraan yang membuat aku tidak suka dengan hal ini.
“Eh Rick” Feni memanggil.
“Iya Fen?” jawabku.
“Kamu mau tahu gak?”
“Apa?” aku mengerutkan dahi, penasaran.
“Ferdy tadi ngebbm aku loh, ahh aku seneng banget” ucap Feni dengan nada yang heboh.
Feni yang gembira saat itu, sedangkan aku, tidak. Perasaan aku tiba-tiba menjadi sedih, kenapa saat-saat aku sedang bersama Feni, selalu saja membahas tentang Ferdy. Ferdy, adalah orang yang disukai Feni, aku terkadang pura-pura ikut senang melihat Feni dekat dengan Ferdy, tetapi sebenarnya tidak, aku cemburu, aku sedih, kamu tidak tahu yang sebenarnya Fen. Aku terdiam saat Feni selesai menceritakan hal itu. Lamunanku hilang saat Feni memanggilku.
“Erick? Rickk… Kok kamu diam sih? Gak ngerespon aku?” ucap Feni dengan nada sedikit kesal.
“Eh iya, maaf Fen. Oh baguslah kalau Ferdy ngebbm kamu, pasti kamu senang kan?” aku mencoba tersenyum, agar Feni tidak tahu apa yang sedang aku rasakan.
“Iyaa.. pasti dong” jawab Feni senang.
“Kamu senang, aku juga senang Fen” ucapku dalam hati.
Besoknya, sekolah tiba-tiba menjadi heboh. Dengan kabar Ferdy menyatakan cinta dengan Feni. Aku yang baru sampai di sekolah, tidak tahu jelas kabar itu, aku hanya mendengar sedikit samar-samar pembicaraan mereka saat aku melalui beberapa teman dari kelas lain yang sedang membicarakan hal itu di pintu gerbang. Aku mencoba bertanya, kepada Andi, yang ada di situ, “Hey Ndi, ada apa? Kok pagi-pagi udah heboh, ada berita apa?” Tanyaku.
“Eh bro, masa lo gak tahu sih, lo kan sahabat terdekatnya Feni. Itu si Feni, baru ditembak sama Ferdy” jawab Andi.
Setelah mendengar itu, aku langsung berlari bergegas ke kelas untuk menemui Feni, Feni biasanya jam segini sudah berada di kelas. Sesampai di depan pintu kelas, dengan napasku yang terengah-engah, aku melihat Ferdy duduk di samping Feni, dan dikerumuni oleh anak-anak yang berada di kelas, aku merasa mereka baru saja melihat adegan yang sangat romantis. Napasku yang terengah-engah seakan berubah menjadi sesak dibuatnya, aku memasuki kelas dengan langkah yang sangat pelan dan pandangan yang kosong, aku mendekati Feni.
“Eh Erick! Kamu baru sampai? Kok kamu lemah gitu sih? Kamu sakit?” tanya Feni.
Aku tak menghiraukan pertanyaan yang hanya basa-basi dari Feni, ah di saat seperti itu dia yang barusan ditembak oleh orang yang dia suka, pasti dia tidak akan mempedulikan siapa pun. Hatiku pun sudah dibuat sakit olehnya. Aku tidak perlu bertanya, pasti Feni menerima pernyataan cinta dari Ferdy.
“Selamat ya Fen.” ucapku datar sambil tersenyum.
“Makasih ya Rick.” jawabnya.
Aku langsung pergi ke tempat dudukku yang di belakang, aku menaruh tas dan terdiam, aku mencoba berpikir. Aku memang tak akan pernah bisa memiliki Feni, walaupun aku selalu berada di belakang Feni, tapi Feni tak pernah menoleh ke arahku, Feni hanya menganggapku sebagai sahabat. Sahabat, bahkan tidak lebih. Memang, cinta tak harus memiliki.
“Tuhan, bantu aku menyimpan perasaan ini..” ucapku dalam hati sambil menghela napas panjang.
Cinta tumbuh karena persahabatan. Dan biarlah aku menjalani hari-hari sebagai sahabatnya Feni, dan aku simpan perasaan ini. Karena bersahabat itu lebih baik dari berpacaran bukan? Ya, aku harus bisa bersahabat, harus bisa. Toh, aku juga gak mau nantinya jika hubungan persahabatan aku sama Feni hancur hanya karena Cinta. Dan aku Erick, akan selalu bersemangat.
Selesai

Kamis, 12 November 2015

Bertahan denganmu

0


mungkin banyak cewek yang berprinsip "dia aja gak bales chat aku, ya udah aku chat sama orang lain ajha.."
tapi prinsipku berbeda dengan cewek lain.
ketika dia yang jauh di sana, aku berusaha tidak chat dengan cowok lain, atau bahkan jalan berdua. ketika dia berusaha keras menata masa depannya, aku bakal menunggu kabar dari dia. Selalu berusaha berfikir positif, kalau dia gak ngabarin, berarti dia memang sibuk dengan urusannya. Dan kalau memang aku prioritasnya, dia pasti kasih kabar ke aku walaupun hanya sekali atau dua kali.
kalau, seharian dia benar-benar menghilang tanpa jejak, aku selalu mencari kesibukan sendiri buat mengisi waktuku. Aku gunakan waktuku untuk memperbaiki diri. Mendoakan dia di setiap selesai sholatku. bukan menanggapi cowok-cowok ganjen yang sukanya nikung.
 bukan aku cewek bodoh yang mau menunggu dan terus menunggu akan kabar dia. tapi, aku percaya bahwa dia menyiapkan yang terbaik buat masa depannya atau bisa jadi masa depan kita. Hubungan yang berkomitment itu bukan yang tiap hari chat, tiap hari telfon. Tetapi hubungan yang berkomitment itu hubungan yang selalu mendoakan kebaikan kita, yang selalu mendukung kita ke jalan yang benar, walaupun dia tidak pernah hadir di kala aku menangis, atau sedih. Tapi, dia selalu mengusahakan 1minggu sekali dia mengabariku dan memberikan kebahagian untukku.
aku bertahan karena, aku percaya bahwa masa depanku akan lebih baik denganmu.

special one : Adisurya

Kamis, 29 Oktober 2015

HAY.. SOBAT!

0

mungkin aku hanya mampu mengetik kata demi kata di sini. Karena, aku tak mampu untuk mengutarakannya..
Hay sobat,, terakhir kita berbicara tentang seorang wanita yang dekat dengan kamu.
Tetapi itu mungkin akan menjadi pembicaraan terakhir kita. Masih teringat jelas bagaimana bohongnya kamu untuk menyembunyikan status hubungan kamu dengan wanita itu. Karena, kamu takut itu akan menyakitiku. 
Hay sobat,, aku bukanlah seperti dulu. Yang selalu membutuhkan pundakmu untuk membuatku tersenyum. Bukan yang selalu membutuhkanmu untuk menyelesaikan masalah-masalahku. Aku telah mampu berdiri dengan tegap tanpa hadirnya dirimu di belakangku.
hay sobat,, aku tak akan terluka jika kamu dengan wanita itu. Aku bahkan bahagia karena, kau telah menemukan kebahagian dengan wanita lain. Jujur, sempat luka ini menggores. Tetapi tidak sesakit 2tahun yang lalu. Aku tak ingin mengingatnya kejadian itu. Cukup aku yang merasakan sakitnya. 
sobat,, jagalah wanita itu. Jika memang memang kemarin pembicaraan kita yang terakhir tak apalah. Yang jelas membuatmu bahagia itu sudah lebih dari cukup untuk meninggalkanmu dengannya.

Isi hati dari Dessy Nur Indahsari

Selasa, 27 Oktober 2015

Perasaan Yang Mampir Sejenak

0

Perasaan Yang Mampir Sejenak

Malam mulai tiba langit pun mendung pertanda akan turun Hujan di malam ini.
“malam ini pasti bakal lebih dingin lebih baik ku buka chatting.” pikirku.
Aku pun langsung masukkan akun dan kata sandi. Ku lihat beberapa pesan di wall chatt-ku tapi aku tertarik pada 1 pesan, yah orang tak ku kenal mengirimku pesan.
“hay, boleh kenal?” Sapanya.
“yah, boleh.” Jawabku singkat.
“boleh ku minta nomor hp-mu soalnya di sini jaringan lagi susah.” Pintanya.
Entahlah aku tipikal cewek yang susah memberikan nomor hp-ku tapi tiba-tiba ku merespon pintanya.
“yah, boleh.”
Mentari pagi telah tersenyum manis dan burung-burung mulai berkicau pertanda hari telah berganti. Kebiasaan yang sulit ku buang jauh-jauh. Jika bangun tidur adalah pertama kali hp yang ku cari. Ku cari kesana-kemari namun tak ku temukan hp-ku dan hingga ku acak-acak tempat tidurku ternyata di bawah bantalku hehe.. Maklum saja perempuan asal taruh. Ku lihat 1 pesan di layar hp-ku ternyata dari cowok yang semalam. Ternyata dia cowok yang asyik buat diajak bercanda sungguh dia mampu menarik hati ini.
Tak disangka waktu cepat berlalu yah aku mulai menyukainya meskipun jarak aku dan dia jauh. Yah Wahid namanya dia tinggal di kota solo dan aku tinggal di sini. Semakin lama rasa sayang ini semakin dalam padanya. Namun sudah beberapa hari terakhir ini tak ada sedikit kabar pun dari dia aku sangat merindukan dia. Hingga aku berniat menelponnya. Nomornya aktif aku sangat bahagia.
“hallo, ini Wahid?” sapaku.
“yah, tri ada apa malam-malam meneleponku?” ucapnya.
“tidak ada apa-apa hanya beberapa hari ini tak ada sms dari kamu aku takut kamu kenapa-kenapa!” Kataku khawatir.
“oh, ya maaf aku kemarin sibuk dengan pacarku.” katanya.
Setelah mendengar penjelasaannya beberapa hari tidak memberiku kabar ternyata dia telah mempunyai kekasih. Betapa hancur hatiku saat ku tahu itu. Tuhan… aku ingin menangis andikan dia tahu betapa aku mencintainya mengapa dia tidak mengerti dengan perasaan ini. Semalaman aku tak sanggup memejamkan mataku hanya dia yang ada di pikiranku mengapa dia setega itu padaku.
Hari pun berganti kini aku masih memikirkannya. Entahlah dia terus menari-nari di pikiranku, aku berusaha merelakan dia namun sulit untukku lakukan. Hingga siang hari ini selalu dia yang terbayang. Tiba-tiba handphone-ku berbunyi tanda ada 1 pesan ku lihat darinya yah dia mengapa mesti hadir kembali.
“mengapa semalam kamu menutup telepon tanpa salam, apa kamu marah padaku, sebenarnya ada yang ingin ku katakan padamu kalau aku menyukaimu. Namun jarak yang membuat aku tak bisa memilihmu.” sms darinya sedikit mengobati perasaan sedihku betapa senangnya saat ku tahu cinta ini tak bertepuk sebelah tangan.
“aku juga menyukaimu maafkan aku yang jauh.” kataku.
Ku tunggu balasan darinya namun tak kunjung ada mungkin dia hanya ingin mengungkapkan perasaannya padaku. Wahai engkau yang jauh di sana aku berdoa pada Tuhan agar kita dapat bertemu kembali dan benar-benar menjalani cinta ini. Karena sampai saat ini aku sulit melupakanmu. Ku harap engaku juga.
Cerpen Karangan: Tri yanuariyanti
Facebook: Thriy Pgndz DcynkNdz’chintha

Senin, 26 Oktober 2015

Tega

0

Namaku Luna. Aku selalu Galau. Kenapa? Lihat saja, orang yang aku cintai tidak mencintaiku. Aku hanya bisa diam membisu ketika bersamanya dan pacarnya. Lebih tepatnya, aku hanya sahabatnya yang berguna untuk kehidupannya namun tidak lebih. Namanya Raka. Aku sangat sayang sekali sama dia. Tapi, apakah dia sayang sama aku? mungkin, jawabannya tidak!
“hai” sapaku kepada Raka.
“hai juga” Raka membalas sapaanku sangat singkat.
“Gea ke mana?” tanya Raka. Uhhh. Gea lagi. Gea lagi! emangnya gak ada nama selain Gea?
Aku berjalan menuju rumah di seberang sana. Rumahku berdekatan dengan sekolah. Ku lihat Raka sedang berbincang dengan Gea di seberang sana.
“uhh. Mereka selalu lengket kayak perangko!” ujarku lemah.
Ku lihat sosok di sana seperti melambai. Sangat jelas sekali ketika dia memanggil namaku, “Lun, sini.” ujar Gea.
Aku risi sendiri. Aku, ke sana? palingan nanti jadi nyamuk! Ketika sempat menolak, akhirnya aku menghampiri mereka.
Tega sekali dia! Lihat mata aku berkaca-kaca! kamu gak ngerti banget perasaan aku hah! puas kamu bikin aku nangis? aku tahu, aku gak secantik kamu! aku hanyalah seorang gadis SMA yang berkepang dua dan memakai kacamata, memang aku cupu! tapi, apakah seorang gadis cupu selamanya sendiri? cupu juga manusia kan? Aku menyesal menghampiri Raka dan Gea. Kenapa? mereka mengajakku untuk menghampiri mereka hanya untuk menunjukkan betapa mesrahnya mereka. Itu sangat menyakitkan. Sudahlah Gea! Aku gak suka lihat itu.
“tumben gak sama Raka?” kata Danu, dia teman yang paling menyebalkan dalam hidupku.
“apaan sih! please aku cape nanganin orang gila kayak kamu” kataku langsung meninggalkan dia.
Aku benci dia. Benci datang dari hatiku. Bukan karena perbuatannya, tapi karena keegoisanku setiap melihat dia. Huhh! gak suka sama dia.
Gea datang, semakin dekat dan akhirnya ada di hadapanku. Aku hanya bisa terbujur kaku ketika memberi sepucuk surat dari Raka kepadaku
“hey! kau sahabat sejatiku! datang yah! pleaseee.. ke hari jadi aku dan Gea di taman nanti sore!”
“surat tak berguna” kataku sambil menyobek surat itu.
Aku tak perlu menghadiri pesta kecil itu. Toh, aku ada dan tidak ada pun tak akan berguna di mata Raka dan Gea. Sudah cukup! aku ingin pergi dari kehidupannya! aku ingin melupakan sosok Raka yang tega membiarkan aku gila sendiri olehnya.
Pagi-pagi sekali aku ke rumah Raka. Jam 7, pagi sekali kan? ini hari minggu. Kotak pos di rumah Raka kosong. Ku taruh surat untuknya di kotak mungil itu. Sungguh! ini sangat menyakitkan.
“hey! kamu Luna?” tanyanya sambil meraih piyama miliknya di atas kursi.
“apa ini?” kata Raka. Dia lansung membaca surat milik Luna.
“jika ada seseorang yang menyuruhku untuk memilih antara kamu dan bulan, aku lebih memilih kamu. Kenapa? bulan hanya bisa menemaniku pada malam tiba. Sementara kau? selalu menemani hariku setiap hari. Kau bagaikan seseorang yang sangat berharga dalam hidupku. Namun, setelah kehadirannya, kau berubah! aku hanya bisa tersenyum melihat itu semua.
Kau tahu? aku akan pindah sekolah ke sekolah lain. Aku sudah muak dengan tingkah kalian setiap hari yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Dan andai burung bisa bicara, akan ku beri tahu dia bahwa tidak ada sesuatu yang lebih berarti selain mencintai dan menyayangimu.”
Cerpen Karangan: Naila Asya Muhfi
Blog: nailaasyamuhfi.blogspot.com
Facebook : Naila Asya Muhfi II
Nama: Naila Asya Muhfi
Twitter: @nailasyamuhfi
Ig: @nailaamuhfii

Pengagum Rahasiamu

0

    Aku ingin buang hajat. Aku ingin segera membuangnya. Aku sudah tidak kuat lagi menahan hajat itu. Tapi aku tak tau bagaimana dan di mana aku harus membuangnya. Hajat itu bukanlah sebuah kotoran yang terbentuk dalam tubuhku. Hajat yang aku maksud adalah perasaanku.
                Sudah lama aku mengenalmu. Sudah lama aku mencintaimu. Dan sudah lama aku menjadi pengagum rahasiamu.
                Sejak pertama bertemu, mataku tertarik untuk melihatmu. Saat itu, badanku seakan dipenuhi besi yang tertarik oleh magnet-magnet yang kau miliki. Bola hitam di matamu yang kecil membuatku tak dapat berkedip. Hidung mancung yang kau miliki, membuatku tak lagi dapat bernapas. Bibirmu yang merah, membuatku tak kuasa untuk terus membuka mulut – terpesona akan parasmu. Sayang, aku tak dapat menghentikanmu saat kau berjalan tepat dihadapanku. Jalanmu yang terlalu cepat dan tidak adanya keberanian dalam diriku, membuatku tak dapat mengenalmu lebih dalam.
                Sejak saat itu, aku berharap kau ada di tempat yang sama denganku, ke mana pun aku pergi. Sayangnya harapan itu hanya sebuah harapan. Nyatanya, akulah yang mengikutimu, ke mana pun kau pergi. Aku tak mempermasalahkan itu. Selama aku dapat melihatmu, hujan seakan terganti oleh sang mentari. Walau pun aku hanya dapat melihatmu dari jauh, mentari itu akan tetap terlihat. Karena mentari itu telah menyilaukan mata, hati dan pikiranku.

NB :Artikel ini gue dapet dari dhevy ulinnuha
With all of my love – dhevy ulinnuha

Sebuah maaf di ujung penyesalanku

0

Sebuah maaf di ujung penyesalanku



aku memang tak berhati besar untuk memahami semua apa yang ada,,dan mungkin aku hanya mampu berjalan mengikuti jalanku tanpa sebuah perubahan yg berarti...ketidakfahamanku tentang apa yg  dia,qamu dan mereka tau serta inginkan buatku seakan jadi seorang yag egois,,

tinggalkan saja aku jika menunggu membuatmu jenuh,seakan berjalan di tempat dan aku hanya harapan kosong untuk hidupmu..maaf ku tak pernah bermaksud melukaimu,,hancurkan mimpimu,atau bahkan bermain dalam hatimu..

mungkin ku kan membisu saat di hadapmu,,tp jujur hati ini ingin jelaskan sesuatu
mungkin ku terlihat diam dan tenang tp sungguh perasaan ini tersudut di kegelisahan yg tak memberi ruang untukku berfikir lebih jauh tentang harapanku tentang pilihan ini

...berikanlah aku secuil maafmu untuk obati rasa bersalah ini 

sebuah maaf di ujung penyesalanku

Kecewa Hati Ini

0

Kecewa Hati Ini

Oleh  Addy Wicaksono


Aku tak mnyesal mngenalmu..
Aku tak prnah salah mnyayangimu..
Karna semua indah bagiku..
Karna semua mnjadi pelajaran brarti buat diriku..

Cintamu memang tak dapat ku miliki..
Kasihmu memang tak bisa hadir d hati..
Namun hanya satu yg pasti..
Aku tak kan prnah ingkari janji..

Tp aku kecewa..
Kau pergi tanpa kata..
Tanpa sedikitpun mrasa iba..
Dgn apa yg sedang ku rasa..

Jika memang ini maumu..
Aku ikhlas mnerima kputusanmu..

Surabaya, dan Sebuah kenangan

0




23 februari 2013, tepat 3 bulan yg lalu, sekitar pukul 8 mlm.
aq berada di sebuah Taman di balai kota Surabaya. besama seorang pria yg sesalu ada di hari" terakhir kepergianku ke Bangka. Sungguh pria yg baik banyak mengajarkanku arti sebuah kehidupan.
tapi aq tak bisa berharap lebih akan hubungan qta saat itu. aq tau bahwa aq hanya akan jadi sesaat untuknya.
tapi Allah brkehendak lain lelaki itu, dy yg setiap malam membuatku tersenyum" menjelang tidur.
mengatakan sebuah kata pusaka yg ditunggu seorang wanita yg sedang kasmaran.
entah knp air mataku bercucuran tapi mulutku diam membisu.
pertanyaan itu di ulang.a berkali" dan aq tetap diam.
sebuah saputangan membasuh air mataQ
subhanallah, sungguh indah malam itu. q tw dy tulus mncintaiku.
tulus mnjagaku dan tulus mnungguku.
sebuah jwb.an "Iya" terlontar, wjah bhagia terlihat mmbuat mlam itu smakin indah.

skang tpat 3bln stelah mlm itu, jarak wktu mmisah tp hti ini brstu

Rendy Zulfikar
 

Semua Tentang Kita

4

Semua Tentang kita


Cerpen Cinta Sedih
Namaku natasya, aku pernah mencintai seseorang dengan tulus. Tapi, semua ketulusan cintaku padanya berakhir sia-sia.
“Natasya, jangan sedih terus dong. Senyum.” kata sahabatku dewi sambil mencari tisu di meja rias kamarku
“gue gak bisa dew, gue ga terima dia ninggalin gue, pergi gitu aja tanpa pamit.”
Arya adalah seorang cowok yang sangat aku sayangi, dia pergi meninggalkanku tanpa alasan. Akupun baru tau kepergiannya setelah sehari dia pergi. Dia juga tak pernah mengabariku kenapa ia pergi. Yang ku tau, Arya harus meninggalkan sekolah lamanya bersamaku karna dia di tuntut kedua orang tuanya untuk tinggal di pesantren , tepatnya di daerah lampung. Akupun terpukul mendengarnya.
“sya, lo gak bisa terus-terusan mikirin arya kaya gini. Dia itu gamau bilang kepergiannya karna dia gamau liat lo sedih. Coba kalo dia tau lo sedih kaya gini. Gimana sya.”
“tapi gue kecewa banget wi, lo ga ngerti perasaan gue.”
Sehari sebelum arya pergi, teman-teman sekelasku sebenarnya sudah tau akan kabar bahwa arya akan pindah dari sekolah. Tapi arya melarang mereka semua untuk memberitahuku dan merahasiakan semuanya. Ini juga karena arya gak ingin buat aku bersedih. Tapi justru malah sebaliknya .
***

Seminggupun berlalu, aku masih belum bisa menerima semua ini. Disekolah rasanya sepi tak ada arya di sisiku yang biasanya setiap hari menyapaku, tertawa bersama. Arya juga tak pernah mengabariku dia menghilang begitu saja. Sampai sekarang aku belum bisa memaafkannya sebelum aku tau alasannya mengapa dia tak memberitahuku tentang kepergian dan kepindahannya ke lampung. Aku mencoba melupakannya tapi aku tak bisa, perasaan ini menyiksaku. Semakin aku mencoba melupakannya, semakin aku tak bisa menghapus kenangan Arya dari hatiku.
“sya, maafin gue ya gue gak bilang sama lo . sebenernya gue udah tau Arya mau pindah dari sekolah, tapi Arya ngelarang gue buat bilang sama lo, katanya dia gak mau buat lo sedih. Lo pasti bisa dapetin yang lebih dari dia. Itu pesan arya buat lo.” Kata eza sahabatnya arya.
Saat eza bilang semua itu kepadaku entah mengapa, hatiku gak bisa menerimanya. Aku menyayangi arya, hanya arya yang selalu ada di hatiku, dan dia yang terbaik untukku. Itu menurutku.
“lo jahat za, kenapa lo gak bilang sama gue dan harusnya lo tuh ngerti.”
“iya, maafin gue sya. Gue salah, tapi mau gimana lagi arya udah pergi dan asal lo tau sya. Dia sayang banget sama lo. Dia sebenernya gamau pindah, tapi karna desakan orang tuanya dia pindah ke pesantren.”
“ gue kecewa za sama dia. Kenapa dia gak bilang dari awal?”kataku lemas
Aku meninggalkan eza yang masih diam membisu diambang pintu kelasku. Aku gak mau mendengar semuanya lagi. Aku udah cukup kecewa dengan semua ini. andaikan waktu bisa berhenti berputar untuk saat ini, aku ingin kembali dan melihat arya untuk terakhir kali.
***

Pagi hari di kelas,
Seiring berjalannya waktu meskipun arya tak pernah mengabariku, dan mungkin dia sudah lupa denganku. Yaa, begitupun aku masih terus mencoba melupakannya. Hari-demi hari kujalani semuanya seperti normal dulu sebelum arya pindah dari sekolah ini. Aku hanya bisa mencoba untuk ikhlas dengan yang ku jalani sekarang. Andaikan ini semua mimpi, aku tak mau ini semua akan terjadi. Tetapi apa daya semuanya bukan mimpi, ini nyata.
“sya...” panggil seseorang dari tempat duduk belakang dan ternyata itu eza , dia berjalan menghampiriku
“apaan za?’’ kataku
“sya, kemaren arya chat gue nanyain lo.”
“terus?”
“kok terus?”
“iyaa, terus kenapa? Apa urusannya sama gue?”
“adalah ”
“apaan?” tanyaku sinis
“dia masi nungguin lo.”
“oh.” Jawabku singkat
“dih ngeselin nih anak, emang lo gamau tau kabarnya dia?”
“ah gatau gue, gue bingung sama dia , dia bilang sayang sama gue tapi apaan ninggalin gue gitu aja dan udah seminggu lebih gue gatau kabarnya.”
“yaa lo tanya lah kabarnya gimana?”
“ngapain ah za, gue cewek gengsi kali nanya ke cowo duluan.” Kataku agak jengkel
“gue bingung ama lo berdua, lo sama arya sama-sama sayang, tapi gak ada yang mau mulai duluan. Gimana kalian mau jadian kalo sama-sama gengsi. Cinta, tapi munafik. ”
“harusnya dialah, minta maaf enggak , kabarin gue juga enggak. Kalo gue disuruh milih untuk kenal sama dia atau gak, gue akan lebih milih enggak dari pada gue harus sakit hati kaya gini akhirnya...gue malah kecewa banget.”
“yaaa, kemaren dia nanyain kabar lo, ya gue jawab lo sedih banget dia pindah.”
“lo jujur amat si za, aaaah tau deh.”
***

Hari terus berganti, meninggalkan semua kisah yang ada begitupun kisah ku dengan arya , aku bertekat untuk melupakannya. Aku udah cukup kecewa dengan semua ini. Setiap kali aku berdoa, mendoakannya untuk kembali bersama ku lagi seperti dulu tapi itu semua tak mungkin. Aku memang mencintai arya, tetapi tak pernah arya jujur akan rasa sayang dan cintanya kepadaku, selalu eza yang bilang kepadaku setiap kali arya curhat kepadanya. Aku bingung dengan semua ini, mencintai seseorang tanpa sebuah kepastian yang pasti.
Tuhan..... jika memang dia yang terbaik untukku, jagalah dia disana tuhan...
Jagalah hatinya untukku, dan jagalah hatiku untuknya...
Aku disini hanya bisa mendoakannya, melihat nya dari kejauhan...
Ini berat untuk ku jalani Tuhan... jauh dari seseorang yang aku sayangi.....
Aku menyayangi dan mencintainya... tabahkan hatiku Tuhan...
Tuhan .. hanya satu pintaku, jagalah iya saat aku jauh dari sisinya.... :’)
Setiap malam setiap ada kesempatan aku berdoa dan menangis, akankah cintaku padanya akan kembali seperti dahulu menjalani hari-hari dengan penuh canda maupun tawa. Cinta ini membunuhku...kau adalah mimpi takkan pernah ku gapai.
***

Sebentar lagi liburan semester tiba, 6 bulan sudah berlalu. Sebenarnya momen-momen itulah yang selama ini ku tunggu. Karna liburan sekolah Arya pasti pulang ke Jakarta dan ada kemungkinan kita akan bertemu lagi. Tetapi , mendengar kabar kalo Arya pasti akan pulang ke Jakarta hatiku biasa saja. Tidak ada getaran-getaran seperti dulu saat aku bersamanya, mungkin karena selama 6 bulan ini aku sudah terbiasa tanpanya, yaa meskipun awalannya aku sangat terpukul dan kecewa juga sedih. Tapi sekarang aku sudah mempunyai seseorang yang bisa menggantikan hati Arya di hatiku yaitu Aka sudah 6 bulan juga aku mengenalnya. Aka datang di kehidupanku ketika hatiku sedang hampa dan kosong tanpa arah. Dia menyembuhkan luka di hatiku, awalnya aku memang tak bisa melupakan Arya karna bagaimanapun juga Arya akan selalu tinggal di hatiku. Saat kepergian Arya, Aka lah yang selalu menemani hari sepiku selama 6 bulan aku mengenal Aka, bagiku dia adalah seorang cowok yang baik , pengertian, dan sabar. Sudah 3 kali Aka menyatakan perasaannya padaku , tetapi tak pernah ku jawab aku hanya bilang kepada aka kalo aku masih mengejar sesuatu. Aka pun mengerti, walaupun dia tak pernah tau aku masih menunggu seseorang , yaitu Arya. Dan Aka masih setia menunggu hatiku. Dan akupun janji akan menjawabnya, aku menerima cintanya atau tidak saat ulang tahun Aka nanti.
***

Pagi di sekolah,
“besok kita bagi rapot sya.” Kata dewi sahabatku
“iya , gue takut nih jadinya masuk jurusan apa wi.”
“udah yakin lo pasti IPA. “
“yaa mudah-mudahan aja kalo kita bisa satu kelas lagi, lo IPA dan gue juga.”
“amiin.”
“haaai semua.” Sapa eza sambil duduk di sebelahku
“apaan si za, JB JB aje.” Kata ku
“hahaha.... lagi ngomongin apaan si? Serius amat?” eza tertawa pelan
“jurusan za...” kata dewi
“oh gitu yaa... lo pasti mah IPA, kalo gue sih maunya IPS.”
“yaa amin-amin mudah-mudahan kita masuk yaa.” Kataku
“iyaa amin .” kata mereka berdua
“eh sya, btw gimana perasaan lo sekarang sama Arya?”tanya eza kepadaku
“yaaah, lo ngomongin Arya lagi.” Jawabku lemes
“dia selau nanyain keadaan lo sama gue sya, ya gue jawab lo baik. Arya juga bilang kenapa dia gak nembak lo. Katanya dia , dia gamau nyakitin lo lagi emangnya lo mau pacaran jarak jauh sama Arya? Arya takut lo nolak dia, kalopun lo nerima dia, kasian elo nya arya gak pernah ada di samping lo . lo tau kan pesantren gimana? Dia pulang juga pas liburan.”
“yaaa.. gue tau. Status menurut gue gak penting. Yang gue mau komitmen za. Kepastian. Dia sayang sama gue tapi dia gak pernah bilang ataupun jujur sama persaannya sama gue. Gimana gue mau percaya sama dia, bisa aja kan dia pacaran disana atau udah punya cewek pengganti gue? Gue yakin za. lagian 6 bulan udah berlalu. Gue mungkin bisa lupain dia, tapi gue gak akan bisa ngelupain semua kenangan tentang kita”
“oh iya, liburan dia kesini sya. Dia pengen ketemu sama lo.”
“gue gamau lah za, udah cukup yang dulu2 gue gamau nantinya keinget dia lagi. Sekarang gue udah punya yang lain, meskipun gue belum jadian sama dia. Tapi kita udah deket semenjak Arya ninggalin gue.”
“siapa?” tanya eza
“aka namanya za, dia ganteng putih jago main basket dan juga jago futsal.” Kata dewi yang menambah pembicaraan suasana menjadi semakin hangat
“serius lo sya?” tanya eza tak percaya
“iya, gue serius dan suatu saat kita pasti akan jadian.” Kataku padanya
“jujur nih gue sya sama lo Arya disana banyak yang nembak dan banyak yang sukain. Lo mau tau semua cewek yang nembak dia banyak, terus dia tolak. Adapun anak SD nembak dia, dan katanya mirip sama lo.”
“terus di terima?” kata dewi sahabat ku, yang duduk di sampingku sembari membaca novel
“gue belom tau kabarnya. setau gue sih dia belum jawab mau nerima tu cewek apa enggak.”
# Bel pun berbunyi
***

Pagi hari,
Hari ini adalah hari yang ku tunggu-tunggu mama ku sudah bersiap-siap untuk mengambil rapotku. ketika sampai di sekolah , aku berpapasan dengan eza. eza tak melihatku mungkin dia gak sadar seseorang yang berpapasan dengannya itu aku. Setelah pembagian hasil rapot selesai ternyata alhamdullilah akhirnya aku masuk jurusan IPA, jurusan yang selama ini aku cari dan sudah aku rencanakan.
“sya, tar abis bagi rapot main yuk.” Kata sari teman dekatku
“okeey, siapa aja?” tanyaku
“banyak lah. Pokoknya.”
“okedeh.”
“lo udah bagi rapot?” tanyanya
“udah nih,”
“wesss... ipa nih ye. Slamet yaa.”
“lo emang belom?” tanyaku
“belom, tar abis ini.”
“oh okey, emng kita mau main apa?”
“main UNO aja, hehe lo bawa uno?”
“kagak sii, yaudah gue balik dulu yaa..tar samper gue aja.”
***

Siang hari,
“natasya, ayok berangkat main.. anak-anak udah pada ngumpul. Jangan lupa uno nya.”
Aku naik motor di jemput oleh teman dekat ku sari. Setelah beberapa menit sampai di rumah sabi, akhirnya kita semua main UNO
“sabi, si eza gak dateng?”
“gatau sya, katanya mau pergi.”
Sabi adalah teman deketku juga , karna rumahnya adalah basecame kami, tempat kami berkumpul dan bercanda bareng
Tak lama sambil kita memainkan UNO , ada suara motor berhenti di rumah sabi. Ici temen ku keluar dan membuka pintu. Ku lihat dari arah jendela ternyata eza, tetapi disana ada seseorang lagi. Memakai helm dan sepertinya aku mengenalnya, Cuma dari jendela tidak terlalu kelihatan. Seseorang itu melepas helm nya dan ternyata... OMG ! batinku...... ternyata seseorang itu adalah...
“sya, ada Arya tuh.”
“hah ? serius lo sab?”
“iya serius gue, tuh anaknya kesini kan.”
Oh Tuhaan.... apa salahku, aku tak ingin bertemu dengannya. Tetapi sekarang kita malah di pertemukan. Apa ini takdirku Tuhan.. untuk bertemu dia lagi. Deg..... tiba-tiba saja terasa jantungku berhenti, getaran ini sudah lama tak kurasakan. Sangat berbeda sekali bila aku dekat dengan aka, tidak ada getaran seperti ini. ada apa ini?” batinku
“sorry sya, dari awal kita semua sudah ngerencanain ini, untuk nemuin lo sama Arya.”
Aku dan arya hanya tersenyum tipis. Tapi aneh sikapnya Arya, dia bener-bener berubah. Dia tak menyapaku. Bahkan menegurku itupun tidak. Apa yang terjadi Tuhan batinku. Apa dia sudah menemukan yang lain? Entahlah.... selama kita semua ngobrol, tetapi aku dan arya tidak juga saling tegur sapa, kenal.. tapi kaya ga kenal.. Arya seperti orang asing dalam hidupku.
“sya, arya kalian berdua diem aja..” ledek mereka
“ayodong kangen-kangenan apa kek gitu?” kata ici teman dekatku yang juga ikut meledek
“tau lo ya, udah ada orangnya malah di cuekin. Giliran ga ada malah nyariin.”ledek eza
“apaansih lo za, gajelas.” Jawabku sinis
“yee lo berdua tuh cinta, tapi munafik. Sama-sama cinta tapi malu-malu gak ada yang mau mulai duluan. Gininih jadinya cuek-cuekan kalo ketemu.”
Kenapa harus gue yang mulai duluan apa musti gue yang negur duluan? Siapa yang buat salah ? gue kah? Atau dia? Yang ninggalin gue siapa? Yang buat gue sedih siapa? Yang buat gue kecewa dan sakit hati siapa? Harusnya lo sadar Arya ! batinku meringis.
“yaudah lah za, kalo mereka emang mau diem-dieman.” Kata sabi
Aku hanya tersenyum ke arah mereka yang menatapku juga Arya. Setiap kali aku memergoki arya melirikku, dan aku juga meliriknya batinku nangis apa iya arya gak kangen sama aku, atau minta maaf? Tapi apa nyatanya... itu tidak sama sekali !! yang ku lihat dari sorotan matanya masih ada cinta dan rindu dihatinya. Akupun merasakan itu. Tatapannya, masih seperti dulu, dingin tetapi penuh arti dari sorotan matanya penuh keteduhan. Andai saja tatapan ini bisa membunuh, mungkin aku sudah terkapar olehnya.
Akhirnya kita semua main UNO , mainan yang biasa kita mainin kalo gak ada mainan yang bisa dimainin . kita anak SMA tetapi masih main kartu UNO, yaa walaupun UNO buat semua umur. Eza pun membagikan kartu UNO nya. Dan kita semua main. Ternyata seiring berjalannya waktu, pertama sari keluar menang, disusul sabi, disusul eza, dan yang terakhir ici, yang salalu main UNO keringetan. Main UNO aja kok keringetan? Dan yang tersisa hanya aku dan aray. Permainan semakin menegang. Belom ada kepastian siapa yang menang aku ataupun aray.
“ayodong menangin sya.” Teman-temanku menyemangatiku. Begitupun aray yang sibuk dengan kartu-kartunya .
“udeh lo pasti menang deh ray.” Kata eza yang malah membela aray di banding aku
“eh belom tentuu.” Kataku , daaaannnn.....
“UNO ! “ aray mengucapkan kata itu bentar lagi dia menang karna kartunya tinggal satu 4+ ternyata.”
aku pun kalah saat permainan itu. Tapi taapalah ini hanya sebuah permainan, akhirnya kita semua tertawa bersama.
bahagia itu sederhana ... walaupun aku dan aray tak saling tegur sapa bahkan saat bermain aray tak juga menatapku. Tetapi dengan melihat aray tersenyum atas kemenangannya padaku. Aku sudah senang.” #Bahagia itu sederhana aku mungkin saja melupakanmu ketika kau pergi, dan jauh disana..tetapi cinta, perasaan kembali ada ketika kau datang
waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Karna hari sudah sore akhinya kita semua memutuskan untuk pulang. Pertemuan yang sangat singkat antara aku dan juga Aray. Sampai pulang kita berdua juga gak ngobrol dan saling cuek-cuekan. Yaa... itulah aray dingin dan sangat cuek
***

Malam ,
Aku masih teringat pertemuan singkat tadi siang. Ini semua seperti mimpi ataukah aku bermimpi?? Sambil memeluk boneka dan tepar di atas kasur aku memutar kembali saat 6 bulan yang lalu , saat aray meninggalkanku, dan pergi begitu saja tanpa kabar. Dan sekarang dia ada disini menemuiku. Aku tak mengerti apa maksudnya
dret.. dret... ponselku bergetar, tanda sms masuk dan ternyata itu dari Aka.
“natasya.. malem.. apa kabar?”
“hei, baik kok Aka.”
“oh gitu syukur deh.”
“besok bisakan dateng kerumah Aka sya?”
Ya Tuhan.. aku lupa besok tanggal 26 adalah hari ulang tahunnya Aka. Untung saja aku sudah menyiapkan kado untuknya jauh-jauh hari.
“okey, besok natasya dateng kok.”
“mau aka jemput?”
“okeh” diakhiri percakapan pendek itu di sms dan akupun tertidur
***

Esok hari,
Jam 10:00 aka sudah sampai di depan pager rumahku. Aku pun pergi kerumahnya di boncengin naik motor satria nya. Di perjalanan dan di pikiranku kosong, entah apa yang aku fikirkan dan akhirnya setelah beberapa menit di perjalanan kita pun sampai di perumahan blok A rumahnya Aka, disana sudah banyak temen-temennya yang berkumpul. Juga sahabat ku putri.
“ka. Ini kado buat kamu.”
“yaampun natasya, pake repot-repot.”
“yaa.. gpp kkok.”
Kado yang aku berikan untuk Aka adalah angsa-angsaan biru hasil karya ku sendiri, juga striminan yang bertulisan namanya dan hari ulang tahunnya
“Heemm ikut aku bentar yuk,” tanganku di gandeng aka ke arah taman komplek dekat rumahnya. Aku tak mengerti apa maksudnya. Terlintas tiba-tiba di fikiranku. Aku lupa kalo aku berjanji akan menjawabnya iya atau tidak untuk menjadi pacarnya.
“heem.. mau ngapain ya ka?” tanyaku terbata-bata aku masih tidak tau harus menjawab iya atau tidak untuk menerimanya.
“adadeh.” Jawab aka
Sesampainya di taman yang indah dan penuh bunga berwarna-warni disana terpampang bunga matahari yang menjulang tinggi juga pohon anggur di sekeliling taman. Di temani teman-teman aka juga putri sahabatku. Karna dialah aku bisa kenal dengan aka, setelah kepergian Arya 6 bulan yang lalu. Di tengah lapangan Aka melepaskan gandengannya.
“natasya, bagaimana dengan jawaban kamu ?”
“jawaban? Jawaban apa?” aku pura-pura tak ingat
“jawaban, apa kamu nerima aku? Atau tidak.”
Jleeeeeeebbbbb................
Ternyata Aka benar menagih janji itu. Aku tak tau kenapa bisa jadi begini. Awalnya aku memang sudah hampir bisa MOVE-ON dari arya, tapi apa? Arya datang kembali di kehidupanku. Menemuiku walaupun itu tidak sengaja bertemu. Tapi apa daya, Aka cowok yang selama ini 6 bulan aku gantungi perasaannya masa iya aku tolak. Cinta diantara dua hati itu tidak mungkin! Aku mencintai arya juga aka..
“natasya, kok diem?” tanya aka
“hah? Iya...apa?” kataku terbata-bata
Temen-temen aka yang menonton dan menyaksikan itu mereka semua menyoraki kita berdua... terima...... terima....... aku bingung saat itu.
“kamu nerima aku atau tidak natasya... aku sayang kamu.” Di raih nya tanganku
Setelah beberapa menit aku berfikir, akhirnya
“iya Aka, Aku terima.”entah apa yang ku fikirkan tak sengaja aku mengucapkan kata-kata itu, terlambat sudah......
Yeeeeyyyy jadiaaaaan sorak mereka tambah ramai. Orang-orang yang ada di area taman bingung karena saat itu teman-temannya aka berisik dan rame. Meskipun saat itu aku malu. Aku memutuskan untuk menerima aka karna aku juga suka sama dia , walaupun aku masih mengharapkan arya untuk menjadi kekasihku. Tapi itu semua tidak mungkin , arya hanyalah mimpi bagiku takkan pernah ku memilikinya.
“makasih natasyaaaa..... ini boneka taddy bear buat kamu”
“iya... makasih yaa aka.”
Aku tak menyangka akhirnya aku jadian juga sama aka, bertepatan dengan ulang tahunnya. Dia memberiku boneka taddy bear berwarna warna pink, Teman-teman aka juga memberi memberi selamat ke kita berdua. Taman itu menjadi saksi cinta kita berdua.
***

Kejadian kemarin telah berlalu. Kini aku sudah menjadi milik orang lain . aku mungkin bisa belajar untuk menyayangi aka, namun mungkin tak sepenuhnya karna aku masih mengharapkan cintanya arya entah sampai kapan.
Baru sehari kami berdua jadian, berita itu sudah menyebar sampai ke kuping teman-temanku terutama arya. Arya sudah mengetahui kalo aku sudah jadian , arya pun syok mendengar kabar tersebut yang datangnya dari eza. Eza adalah sahabatku sekaligus sahabat dan teman curhatnya arya . jadi apapun yang terjadi denganku pasti eza tau, dan bakal lapor ke arya.
Ponselku tiba-tiba berdering , ternyata ada tlp dari ici sahabatku.
“halo?” sapanya
“iya ci, tumben tlp ada apa?” tanyaku
“gpp, Cuma mau mastiin aja.”
“apa?”
“lo beneran jadian sama aka? Cowok yang sering lo ceritain itu ke gue?.”
“iya ci.”
“selamet ya sayang.”
“eh iya makasih.”
“oh iya, arya udah tau lo jadian?”
“udah, sepertinya dari eza.”
“iya, gue juga tau dari si eza . Kirain itu boongan ternyata beneran.”
“iya, itu semua bener. Gue jadian kemaren tanggal 26 pas ulang tahunnya ci.”
“hmmm... lo udah tau kalo arya nyusul jadian setelah lo jadian sama aka?”
“apa..?” Aku tersentak kaget . tak sengaja ponselku ku banting ke arah tempat tidur, dan untungnya tidak ke lantai, ku ambil lagi dan kudengarkan apa yang sebenarnya terjadi.
“halo sya?”
“ya maaf, tadi hp gue jatoh. Gue kaget abisnya.” Jantungku tiba-tiba saja terasa sesak dan sakit entah kenapa , aku tak mengerti
“jadi gini, hari ini arya jadian sya”
Deeeg......serangan itu kembali ada
“gak, gue gak tau? Emang dia hari ini jadian? Sama siapa?
“sama anak sana yang katanya mirip sama lo, namanya evina.”
“evina? Semoga dia bahagia.” Ku akhiri percakapan itu , walau singkat tapi menyakitkan bagiku.
sungguh aku tak percaya, dan hari ini tanggal 27, ternyata hari ini jugalah arya jadian sama pacarnya evina. Aku tak mengerti apa maksudnya aray dengan semua ini. Ataukah evina yang katanya mirip denganku itu Cuma sebagai pelampiasannya saja?ataukah arya bener-benar menyayanginya? Entahlah.
Kini semuanya tlah berakhir, meskipun aku tak mengerti jalan fikirannya arya. Tetapi aku yakin, dihati kecilnya arya meskipun sedikit saja, dia masih menyisihkan tempat untukku dihatinya dan menyimpan namaku dihati kecilnya.. begitupun aku, meskipun aku sudah mempunyai seorang kekasih , dan dialah yang membuatku menyadari. Menunggu itu tidak enak, apalagi orang yang kita tunggu gak pernah mencoba untuk meraih kita.sungguh menyakitkan. Mungkin arya sama sepertiku, menjalani semuanya tetapi tidak apa yang dia inginkan.
***

Tiba-tiba saja ponselku bergetar ternyata tlp masuk .
“halo?natasya?Sya, hari ini arya mau pulang.”
“pulang?” ternyata sms itu berasal dari sari yang juga teman baikku
“iya pulang, padahal dia baru sebentar di jakarta. Malah belom sempet kangen-kangenan kan sama lo? Eh tapi gak deh lo berdua kan udah sama-sama punya pacar. Tapi gue sih yakin pasti lo berdua masi saling ngarepin iya kan?”
“gak usah nyindir gitu deh sar.”
“haha.. iya maaf” sari tertawa pelan
“oh iya , lo tlp gue Cuma mau ngasi tau kalo dia pulang?’’
“yaa.. gue sedih banget dia hars pulang dan katanya gak akan balik lagi.”
Deeegggg........... tiba-tiba saja air mataku mulai jatuh perlahan setelah mendengar kabar itu dadaku terasa sesak dan saat ini sulit untuk bernafas
“syaa?” panggilnya
“natasya? Lo gak apa-apa kan? Diem aja?”
‘’eh iya sorry apa tadi yang lo bilang, gue gak denger.”
“arya mau pindah dan tinggal di lampung selama 3 tahun. Dia gak akan balik lagi dan pastinya rumahnya yang disini mau di kontrakin.”
“apa?”
“iya bener, eh udah dulu yaa byee..
Sari mengakhiri percakapannya , aku tak mengerti dengan semua ini.. lagi-lagi arya pergi dan ninggalin aku untuk kedua kalinya, tapi ini berbeda dia gak akan kembali. Ini semua tak mungkin. Ku putar lagu pasto aku pasti kembali, dan lagu itu yang menjadi lagu kita berdua dulu. Teringat aku dan arya sering menyanyikan lagu itu berdua.. di pekarangan sekolah sambil memainkan gitar
Reff : aku hanya pergi tuk sementara..
bukan tuk meninggalkanmu selamanya..
aku pasti kan kembali, pada dirimu.. tapi kau jangan nakal, aku pasti kembali..
aku pasti kembali.........
***

Pukul 06.00 pagi,
Aku terbangun dari tidurku, aku tak bisa berhenti menangis tadi malam, mungkin sebabnya mataku sembab dan layu seperti ini. aku tak mengerti mengapa aku menangisinya. Aku tak mengerti apa yang ku tangisi. Cintanya? Ataukah karna arya yang ingin pergi? Entahlah..aku tak mengerti..Seharusnya aku seneng arya pergi dan gak akan kembali lagi, tapi apa nyatanya? Aku malah seperti ini, seharusnya aku sadar aku sudah mempunyai seseorang kekasih begitupun arya.... Aku juga tak mengerti perasaanku gelisah tadi malam, tadi malam aku juga melihat arya tapi aku , aku tak ingat dia ada di mimpiku? Atau dia datang tadi malam. Yang ku ingat dia datang memakai baju putih dan dia tersenyum padaku, dia memegang tanganku dan berbisik. Jangan sedih, karna arya akan selalu ada dihati kamu. Dan kamu selalu ada di hati arya.. mungkin arya gak akan pernah kembali.
Dret..dret.. hp ku berdering, ternyata ada tlp dari eza aku pun cepat-cepat mengangkatnya..
“sya, udah bangun??’’
“ada apa?gue baru aja bangun.”
“lo udah tau kan arya pergi?”
“iya , gue udah tau dari sari dia yang ngasih tau gue kemaren malem.”
“suara lo kenapa?”
Mungkin suaraku begini adalah efek tangisanku tadi malam , aku tak bisa tidur.. hanya arya yang aku fikirkan tadi malam.
“hah? Suara gue? Gpp, gue lagi sakit tenggorokan biasalah radang.
“bohong, lo pasti abis nangis ya?”
“enggak.” Aku memang berbohong sama eza, karna aku tak ingin kawatir.
“ada apa tlp gue pagi-bagi begini? Tumben?’
“iya, gawat sya penting gawat. Arya barusan aja masuk rumah sakit.”
“apaaa?” aku tersentak kaget dan mataku kini sudah tak mengantuk lagi
“iya udeh lo cepetan mandi. Cepet nanti lo gue anter kerumah sakit gue jemput.”
Aku segera mengakhiri tlp, aku bergegas untuk mandi. Dan setelah aku selesai mandi, dan siap untuk berangkat , tiba-tiba saja terdengar bunyi motor depan pagar rumahku, ku lihat dari jendela ternyata itu eza, aku cepat keluar dan pamit tidak sempet sarapan pagi
“za, ceritain ke gue plis.”
“udah cepet naik , nanti gue ceritaiin di jalan.”
Aku segera naik dan meninggalkan rumah. Aku pergi dengan hati yang cemas, selama di perjalanan aku hanya diam dan diam.
‘’sya, jangan diem aja .”
“jelas aja gue diem.”
‘‘ini adalah bukti kalo lo masih sayang banget sama arya, iya kan?”
“gak. Gue Cuma khawatir” kataku ngeles
“Khawatir? Kalo lo Cuma kawatir, gak akan lo mau pagi-pagi kaya gini disuru kerumah sakit buat liat keadaan arya, padahal lo sendiri udah punya cowok. Tapi lo sendiri malah ngawatirin arya di banding cowok lo”
“jelasin ke gue kenapa arya?”
Hening........ aku tak mengerti kenapa suasana menjadi hening.. keadaan pagi yang dingin ini menusuk tubuhku
“eza?’’ panggilku
“eza, arya kenapa?’’ panggilku sekali lagi cemas
“dia... dia.. “
“dia? Dia kenapa zaa.”
Eza tak juga menjawabnya, setelah setengah jam di perjalanan, tak terasa kita sudah sampai dirumah sakit. Setelah eza memarkirkan motornya, aku dan eza langsung pergi menuju ruang kamar tempat arya dirawat. Aku dan eza melihat teman-temanku sudah rame dan berkumpul di ruang kamar arya, aku tak mngerti mereka semua menangis sampai isek-isekan. Apa yang terjadi? Aku tak mengerti . tiba-tiba saja ditengah kerumunan mereka yang sedang menangis, aku melihat seseorang memakai baju putih keluar dari arah pintu kamar rumah sakit tempat arya dirawat. Aku diam dan tak menghampiri seseorang itu. Ku lihat eza sudah tidak ada disampingku. Aku seperti mengenalnya, wajahnya pucat, lesu, dan dia tersenyum kepadaku. Dia itu arya? Apa dia itu arya? Dia tersenyum padaku? Tapi aku heran mengapa mereka semua masih menangis? Sedangkan arya? Dia baru saja kluar dari arah pintu dan tersenyum padaku.... tiba-tiba saja saat aku ingin menghampiri seseorang itu, seseorang itu hilang? Hilaaaang????? Iya, tiba-tiba saja hilang. Aku tak mengerti kemana bayangan itu pergi.
“natasyaaaa..... “ tiba-tiba ici menghampiriku dan memelukku
“ada apa? kok lo nangis?” tanyaku heran, ici masih saja menangis di pelukanku
“arya syaaa... arya.....gue gk percaya dengan semua ini, padahal waktu kemaren kita abis ngmpul bareng.. gue gsk percaya!”
“arya kenapa? Dia baik-baik ajakan? Barusan gue liat dia keluar kamar dan dia senyum sama gue, tapi anehnya dia langsung pergi dan hilang gitu aja pas gue mau nyamperin dia.. yaa.. barusan .” kataku polos tak mengerti
“apa? “ ici menatapku
“iya seius gue gak boong tuh barusan dia kesana” aku menunjukkan ke arah bayangan itu pergi
“arya itu udah gak ada natasya, dia pergi ninggalin kita semua.. bukan untuk pergi dan tinggal di lampung, tetapi dia pergi untuk selamanya.”
“gue gak ngerti, jelas-jelas gue barusan liat dia.”
“ikut gue,” di tariknya tanganku masuk ruang kamar arya
“lihat,dia udah gak ada, gue gak sanggup dengan semua ini.”
“aryaaaaa... aku menghampiri arya yang terbaring lemas dan kaku, juga pucat dan tangannya begitu dingin.”
“arya, bilang ke gue kalo ini gak bener. Aryaaa buka mata lo, bilang kalo ini gak bener. Kenapa lo gak mau buka mata lo , aryaaa plis.” Aku tak bisa menahan tangis
“arya, plissss arya gue mohon, jangan ninggalin natasya dengan cara seperti ini natasya gamau ditinggal arya, natasya sayang banget sama arya. Arya bilang, kalo ini bohong, tangan arya dingin banget, arya sakit? Arya kedinginan? Tadi arya baru aja senyum ke natasya aryaaa bangun.”
Saat itu aku tak bisa menahan tangis, tangan arya saat itu dingin banget semua itu bisa ku rasakan. Tetapi dokter langsung membawanya, ku lihat terakhir kali arya tersenyum padaku, ini mimpi? Katakan ini mimpi padaku.
“natasya?’’ seseorang menarik tanganku, entah itu siapa dia langsung memelukku
“ikhlasin dia natasya, dia udah gak ada jangan menangis terus, ikhlasin dia.”
Aku tak bisa menahan tangis, aku sekarang rapuh, aku tak bisa apa-apa dengan kenyataan pahit ini. batinku
“ikhlasin dia natasya, ini semua demi kebaikannya.” Aku masih terhanyut dalam susana dan juga didalam pelukan seseorang itu, ketika aku membuka mata ternyata seseorang itu adalah aka, pacarku yang juga ada disana.. menyaksikan itu semua
“ayok kita keluar, aka jelasin semuanya.”
Teman-temanku masih saja menangis, dan juga ku lihat eza sepertinya dia juga sangat terpukul. Aku mengerti perasaan eza, dan juga teman-temanku semuanya.
Ternyata, aka membawaku ke kursi taman belakang rumah sakit.
“aka udah denger semuanya sayang.”
“maafin natasya, maafin natasya.” Kataku pelan
“gk usah minta maaf, justru aka yang minta maaf sama kamu. Mungkin kalo kamu denger ini semua kamu nantinya bakalan benci dan marah sama aka, pacar kamu.”
“kenapa kamu ngomong gitu?” tanyaku tak mengerti
“kamu tau? Kamu ingat 6 bulan yang lalu pas arya pergi ninggalin kamu tanpa pamit?”
“iya aku ingat?”
“dia itu pergi ninggalin kamu karna dia sakit, bukan karna dia sekolah di pesantren juga. Dia Cuma nyari alesan yang masuk akal.Selama itu dia pergi untuk berobat kesana-sini. Tapi itu semua gagal. Pengobatan itu sempat berhasil, tetapi tidak berlangsung lama.”
Hening..... aka melanjutkan ceritanya
“selama dia pergi untuk tinggal di lampung, dia bilang kalo dia pindah ke pesantren.. padahal tidak sayang.. dia pergi bersama orang tuanya untuk berobat. Dia punya penyakit jantung. Kemaren pas kamu main sama dia sama teman-teman kamu ,mungkin saat itu keadaan arya sudah pulih tetapi , arya drop dan harus pulang dan pindah ke lampung selama 3 tahun untuk menjalani pengobatan. Orang tuanya arya terpaksa pindah kesana, karna tidak mungkin bolak-balik dengan kondisi arya seperti itu lampung-jakarta itu lumayan jauh.”
“selamaya 6 bulan, arya menitipkan kamu ke aku. Karna aku sahabat baik arya sejak kecil. Hanya aku yang tau tentang penyakitnya,selain keluarganya sel. Maafkan aku, natasya... seharusnya dari awal aku jujur sama kamu. Pas kita jadian tanggal 26 kemarin, arya mengetahui kabar itu. Awalnya aku gak enak sama dia, tapi aku bener-bener sayang dan tulus sama kamu itu semua aku lakuin untuk ngejagain kamu. Pas arya tau kita jadian, dia pesen sama aku , supaya kamu suatu saat nanti dia udah gak ada, kamu harus bisa ngikhlasin dia. Ini semua demi kebaikannya natasya.ini semua udah ada yang ngatur”
“Tadi aku juga menemaninya sbelum ajal menjemputnya. Dia berpesan padaku sayang, katanya dia minta maaf sama kamu dan teman-teman kamu juga. Karna dia gak mau buat kamu sedih juga semuanya. Tadi aku juga udah cerita ke semua teman-teman kamu dan tadi aku suruh eza jemput kamu. Maafin aku terlambat ngasih tau kamu.”
Tangisku semakin tak terkendali, aku tk bisa menahan semuanyaa.... ini semua telah berakhir, dan akupun kini harus membuka hatiku untuk orang lain
“ aku gak marah sama kamu, aku juga ngerti kalo misalnya aku ada di posisi kamu saat itu. Aku ikhlasin , walaupun aku masih sakit dan sangat terpukul.”
“ya, seharusnya kamu bersikap seperti itu sayang, itu semua udah tuhan yang atur. Kita sebagai umatnya hanya bisa sabar, ikhlas, dan menerima.”


Tuhan... jika ini semua sudah menjadi jalan takdirku,aku ikhlas Tuhan...
Tabahkan aku , berilah tempat yang nyaman disana buat Arya Tuhan...
Sayangi dia, dan meskipun Arya sudah tidak ada di dunia ini. tapi aku masih tetap menyayanginya... sampai nanti ku menutup mata...

SELESAI

Karya : Addy Wicaksono

Harus Ku Akhiri

0

Harus Ku Akhiri



Aku belajar arti sebuah kesetiaan dari pengkhianatanmu. Aku belajar arti kejujuran dari kebohonganmu. Aku belajar arti kasih sayang tulus dari fatamorgana cintamu. Aku belajar arti sebuah senyum dari luka yang kau goreskan untukku. Aku tahu kau tak mencintaiku tapi aku lebih baik mencintai dan terluka, daripada bersembunyi ketakutan dalam hidup tanpa cinta. Karena cinta memang tidak menjamin kebahagiaan, tetapi tidak ada kebahagiaan tanpa cinta.

Siang itu. Tak sengaja aku melihat kekasihku Alex sedang mengendarai motor gedenya bersama seorang wanita yang tidak aku kenal. Aku yang kebetulan sedang menyetir Mobil hanya bisa pasrah melihatnya. Seerrr… darahku langsung turun hingga membuat tubuhku lemas pada saat melihat kekasih yang sangat aku cintai berselingkuh dengan wanita lain. Tiba-tiba, lampu lalu lintas berwarna merah sedang menyala. Alex dan wanita itu berhenti tapat di samping Mobilku, ia menunggu lampu berubah menjadi hijau sama sepertiku. Ternyata benar apa kata teman-temannya perihal Alex selingkuh dengan wanita lain. Pada saat itu aku memang tidak percaya. Tapi sekarang aku sudah percaya karena melihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku rasa tidak ada jalan lain, selain mengakhiri hubungan yang sudah 7 tahun terjalin lamanya ini.
Entah ke mana yang mereka tuju pada saat itu, padahal tinggal 10 detik lagi lampu merah berganti menjadi lampu Hijau. Tetapi sebelum warna lampu itu berganti, Alex dan wanita itu langsung tancap gas menerobos lampu merah. Tanpa mereka sadari, dari arah samping datang sebuah truk besar yang melaju dengan kencang. Alhasil kecelakaan itu pun tak bisa terhindari. Aku sangat terkejut dan tidak percaya melihat kecelakaan itu di depan mataku sendiri.
Semua orang di sekitar langsung tercengang melihat kecelakaan yang terjadi itu. Terlihat beberapa orang berlarian untuk menyaksikannya, dan sebagian orang lainnya sibuk untuk menghubungi polisi dan Mobil Ambulan. Menurut kalian Apa yang harus aku lakukan? Menolong kekasihku yang berselingkuh itu, atau membiarkannya saja? Ya. Aku membiarkannya.
Dalam hatiku berkata. “kau pantas mendapatkannya, itu balasan karena kau mengkhianatiku.”
Tak lama kemudian, Lampu berganti menjadi Hijau. Aku langsung memalingkan pandanganku ke depan, aku pun langsung tancap gas menuju kantor, karena ada Meeting penting yang harus aku hadiri.
Di kantor, Aku langsung disambut oleh sekretarisku. Ia membawakan beberapa berkas untuk aku Meeting nanti. Sesampainya di ruang Meeting, beberapa Staff bahkan Bosku sudah menunggu.
“Maaf Saya terlambat” Ucapku sambil memasuki ruang Meeting lalu duduk di kursi yang sudah disediakan.
“Tidak apa-apa, aku dengar di Jalan Tol terjadi kecelakaan, karena itu kan kamu telat datang ke mari” Ucap salah satu rekan kerjaku.
Aku hanya mengangguk perlahan dan bersikap seperti biasa seolah-olah kecelakaan itu tidak ada hubungannya denganku. Padahal aku tahu, kecelakaan itu mengakibatkan Alex di dalamnya. Dan hatiku sangat sakit terutama saat melihatnya dengan wanita lain.
Beberapa jam saat Meeting berlangsung, tiba-tiba aku diganggu oleh suara ponselku yang berdering. Ternyata salah satu teman Alex bernama Rama menelponku. Aku langsung meminta izin ke luar dari ruangan. Sesampainya di luar aku langsung mengangkat teleponku. Aku tak heran kenapa Rama menelponku dan aku sudah tahu dengan apa yang akan dibicarakannya dalam telepon.
“Hallo Vania” Ucapnya gelisah dengan napas yang tidak beraturan.
“Iya? Ada Apa Ram?” sahutku santai.
“Van, gawat Van. Lo harus cepat ke Rumah sakit Van. Alex kecelakaan.” Ucapnya kembali.
Aku langsung terdiam. Aku bingung harus mengatakan Apa? Karena aku memang sudah tahu perihal itu.
“Van! Hallo Vania” Panggil Rama kembali.
Aku langsung tersadar lalu menjawab kembali teleponnya.
“Iya, Iya. Gue segera ke sana” Ucapku yang sok panik.
“ya udah gue tunggu lo. Cepat ya” sambung Rama lalu menutup teleponnya.
Kemudian, aku pun kembali masuk ke ruang Meeting. Aku langsung meminta Izin untuk permisi pulang kepada Bos.
“Pak, Maaf sepertinya saya tidak bisa ikut Meeting sampai selesai. Nanti laporan saya akan dijelaskan oleh Sekretaris saya” Ucapku.
“ya sudah kalau begitu. Silahkan kamu pergi.”
“terima kasih Pak.”
Aku langsung mengambil tasku, lalu ke luar dari ruang Meeting.
Beberapa saat kemudian, Aku sampai di rumah sakit. Aku langsung menuju ruang UGD. Kulihat ketiga teman Alex yaitu Rama, Andi dan Rian sedang duduk di ruang tunggu dengan raut wajah mereka yang berbagai macam. Aku langsung berjalan ke arah mereka dengan memasang raut wajah sedihku.
“Vania” Ucap Rama sambil berdiri karena melihat kedatanganku. Andi dan Rian pun juga ikut berdiri. Kemudian aku melihat Alex yang berada di dalam ruang UGD dari celah pintu. Terlihat beberapa Dokter sedang sibuk menanganninya.
“Van lo yang sabar ya” Ucap Rian sambil mengelus-elus pundakku.
Tak tahan menahan sesak di dada. Akhirnya, air mata yang berlinang di pelupuk mataku terjatuh juga dan mengalir di kedua pipiku.
“Vania sebenarnya…” Ucap Rama.
“Gue udah tahu kok” potongku.
“Apa?” sahut Rama kembali.
“Gue udah tahu kejadian semuanya, kejadian yang menimpa Alex. Bahkan gue ngelihat sendiri dengan mata kepala gue.”
“Jadi lo udah tahu semuanya. Yang menimpa Alex sama Wanita itu?” Ucap Rama kembali.
“Iya” sahutku.
“Alex memang pantas mendapatkan ini, Ini hukum karma namanya” Ucap Rian kesal.
Sontak Andi langsung menyenggol Rian untuk menghentikannya agar ia tidak berkata yang macam-macam tentang Alex.
Tiba-tiba, Dokter pun ke luar dari Ruang UGD. Rama langsung menanyakan perihal keadaan Alex.
“Dokter, bagaimana teman saya Dokter?” Tanya Rama.
“Ia termasuk salah satu orang yang beruntung, benturan di kepalanya tidak terlalu fatal. Ia cukup dirawat secara Intensif, mungkin untuk minggu yang akan datang ia sudah boleh pulang. Untuk beberapa hari ini. Biarkan ia dirawat di Rumah sakit” Jawab Dokter.
“syukurlah” Ucap Rama lega.
Aku pun cukup lega mendengarnya, karena bagaimana pun aku masih peduli dengannya. Tak lama kemudian Suster perawat ke luar dari dalam Ruang UGD dan menghampiri kami.
“Pak, Biaya Administrasi bisa dibayarkan di Resepsionis, terima kasih” Ucapnya pada Rama, Andi dan Rian.
“Baik Suster” sahut Rama.
Rama, Andi dan Rian pun langsung mengikuti Suster tersebut ke tampat Resepsionis. Tinggallah aku seorang diri di depan Ruang UGD. Penasaran akan keadaan Alex, aku pun masuk ke dalam Ruang UGD tersebut. Dengan perlahan aku melangkahkan kaki dan mendekat ke arah Alex. Ku lihat kepalanya yang dibalut dengan perban dan tangannya yang penuh dengan luka. Aku langsung menggenggam erat tangannya. Air mataku pun kembali berlinang.
“Kenapa sih lo khianati gue. Apa salah salah gue sama lo? Kenapa lo nggak bisa jaga kesetiaan gue? Kenapa Lex?, kenapa?” Ucapku kesal pada Alex yang tidak sadarkan diri.
“gue sebenarnya udah tahu semua ini dari teman-teman lo. Tapi gue berusaha untuk nggak percaya, karena gue sayang sama lo. Tapi kali ini, gue harus ngakhiri hubungan kita.” Ucapku kembali.
Tak ingin berlama-lama di dalam Ruang UGD yang membuat hatiku semakin hancur, aku pun ke luar dari ruangan tersebut. Rama, Andi dan Rian yang baru akan masuk, tampak terkejut melihat aku ke luar dengan air mata yang mengalir di pipiku. Mereka langsung mengahadang kepergianku.
“Vania, tunggu” Ucap Rama.
Dengan Air mata yang terus mengalir bahkan semakin deras, aku berkata dan mengungkapkan persaanku kepada Rama, Andi dan Rian.
“Gue udah nggak tahan. Gue nggak bisa ngelanjutin hubungan ini lagi sama Alex. Nggak ada yang bisa gue buat lagi selain mutusin semuanya, kurang setia apa gue sama dia?” Ucapku meluapkan perasaanku.
Kemudian, aku mengambil surat yang ada di dalam tasku, aku memang ingin berikan surat ini kepada Alex. Surat ini aku buat pada saat setelah aku mengetahui Alex selingkuh dan setelah kecelakaan itu terjadi.
“kalau Alex udah sadar, tolong kasih surat ini ke dia ya, dan jangan berharap aku muncul lagi di hadapan kalian berempat, gue juga minta maaf sama kalian bertiga. Gue pergi. Selamat tinggal” Ucapku kembali.
Aku pun langsung pergi meninggalkan mereka.
“Vania” Panggil Andi.
“Vania. Pikir lagi dengan semua ini!” Ucap Rian.
Aku terus berjalan pergi dengan rasa yang teramat perih, aku harus rela meninggalkan kekasihku, atau lebih tepatnya mantan kekasihku dan ketiga sahabat terbaikku.
Aku pergi untuk menenangkan pikiranku, dalam beberapa hari kedepan, atau mungkin sampai waktu yang tidak ditentukan. Meninggalkan pekerjaan di kantor dan menghilang sejenak dari penatnya Ibu kota. Serta melupakan Ia yaitu Alex dan ketiga temannya. Di sinilah aku sekarang, di sebuah tempat di pinggir pantai. Tak ada seorang pun yang menggangguku di sini, inilah hidup yang selama ini aku cari. Tenteram, damai. Hanya ada aku seorang diri.
Aku terduduk di tepian pantai, bermain dengan ombak yang menerpaku dengan sendirinya. Menggunakan gaun putih sepanjang lutut dan rambut yang terkepang satu ke arah samping, aku juga tidak menggunakan pelindung kaki sama sekali, karena aku percaya tak akan ada satu pun yang menyakitiku di sini. Sesaat setelah aku puas bermain dengan ombak, Aku pun bangkit dari tempat dudukku. Kemudian Aku berjalan dengan niat untuk menyelusuri bagian dari pantai ini.
Tanpa ku sangka dan tanpa ku duga, Alex dan ketiga temannya muncul di hadapanku, hanya berjarak 3 meter dari tempat aku berdiri. Mereka kompak menggunakan baju dan celana berwarna putih senada dengan gaun yang aku kenakan. Aku sangat terkejut melihat kehadiran mereka terutama Alex. Aku melihat Alex memegang surat yang aku berikan terakhir kali.
“Vania” Panggilnya padaku.
Entah kenapa, mulutku susah sekali untuk berkata. Seolah-olah aku kehilangan kata-kataku. Kemudian Alex berjalan beberapa langkah ke arahku dengan meninggaklkan Rama, Andi dan Rian yang masih berdiri di belakangnya. Raut wajah Alex langsung berubah menjadi sedih diliputi dengan rasa menyesal.
“Vania. Sayangku, Maafkan Aku. Aku nyesal. Aku benar-benar meyesal. Aku mohon jangan pergi, jangan Akhiri hubungan kita” Ucap Alex memelas.
Entah kenapa air mataku tak ingin ke luar. Tak sedikit pun terbecak rasa sedih di raut wajahku.
“Maaf Alex. Keputusanku sudah bulat. Aku nggak bisa terus sama kamu lagi. Ini belum terlambat. dan Belum terlambat untuk kita berjalan sendiri-sendiri” Sahutku.
Tak ingin larut dalam suana sedih itu, Aku langsung membalikkan badanku dan mencoba untuk melangkah pergi. Tetapi dengan cepat, Alex menghadang kepergianku. Ia langsung memelukku dari belakang.
“kamu bilang belum terlambat? selama 7 tahun hubungan kita, kamu bilang belum terlambat untuk kita berjalan sendiri-sendiri. Apa maksud kamu?” ucap Alex dengan Air mata yang tiba-tiba menetes.
Aku pun menepis perkataannya, dengan membalikan fakta kebohongannya.
“7 tahun kamu bilang, apa kamu nggak sadar? selama 7 tahun itu juga kamu khianati cinta aku, kamu khianati kesetiaanku. Jadi apa bedanya saat kita berjalan sendiri-sendiri sekarang, dengan dulu, saat kamu jalan sama Wanita lain” Jawabku.
Aku langsung melepaskan pelukan Alex. Aku pun berbalik ke arah Alex. Dan sebelum aku pergi selamanya darinya, aku ingin menyempatkan untuk memberi kebahagiaan kecil untuknya.
“jangan sedih. Nggak seharusnya kamu sedih dengan perpisahaan ini, kita pasti sama-sama mendapatkan pasangan yang terbaik, percayalah” Ucapku sambil memegang kepala Alex dengan kedua tanganku.
Kemudian, aku mendekatkan diriku kepada Alex, aku pun mengecup bibirnya sebagai tanda perpisahan. Terlihat wajahnya yang sedih bercampur bingung. Tak lama kemudian aku pun melepaskan kedua tanganku darinya.
“Selamat Tinggal…” Ucapku kembali.
Lalu aku menjauh perlahan darinya, tak lupa aku memberi senyuman kepada Rama, Andi dan Rian. Alex langsung berlurut menyesali perbuatannya.
“Vania!!!” Teriak Alex Keras.
Aku langsung membalikkan tubuhku dan berlari sejauh mungkin, pergi masuk ke dalam kabut asap yang tebal dan menghilang. Menjauh dari mereka semua, karena semuanya telah aku akhiri.

Cerpen Karangan: Tri Fuji Astuti (Fuji Queenzi)
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com