Kamis, 22 Desember 2016

ANTARA KITA,AL-QUR’AN, DAN BUMI JIHAD

2

Semilir angin berhembus lembut, menebarkan aroma wangi darah para mujahid di bumi palestina. Kulihat Al-Aqsa merekah tersenyum manis menyambut kedatangan mujahid dan mujahidah dari negara populasi muslim terbanyak di dunia, Negara Indonesia.
Aku merasa sangat tersanjung, karena Allah telah memberiku kesempatan untuk menjadi tentara pembela agama-Nya di bumi  jihad ini.
Laki-laki yang sedari tadi membuat pikiranku sibuk, terlihat cekatan memasukan semua perlengkapan untuk keberangkatannya ke medan perang dan bergabung dengan HAMAS, kelompok gerakan perlawanan Islam terhadap Israel di tepi barat dan jalur Gaza.Dia bergabung dengan HAMAS, sedangkan aku menjadi relawan medisuntuk Palestina di RSI (Rumah Sakit Indonesia). Rumah sakit yang terletak di Bayt Lahiya Gaza utara ini,dibangun sebagai bentuk rasa peduli dan kecintaan rakyat Indonesia kepada Palestina.
Aku berlari kecil menghampiri laki-laki itu.
“Mas Azzam, Al-Qur’annya.” Kataku, sembari menyerahkan Al-Qur’an berukuran kecil yang amat Ia sayangi,  pemberianUmmi ketika Ia milad ke-10 tahun.Sudah hampir 15 tahun Al-Qur’an ini menemani Mas Azzam, walaupun seluruh isi Al-Qur’an itu sudah Ia salin kedalam memorynya dan mampu membaca tanpa harus dilihat, tetapi kemanapun Ia pergi, Al-Qur’an itu harus selalu menemani.Mas Azzam meraihnya dari tanganku, lalu Ia masukan kedalam saku bajunya.
“Syukron.” Katanya singkat dengan air muka yang damai. Tiba-tiba Ia memperhatikan wajahku yang teramat cemas dan gelisah. Hati ini terus dihantui rasa khawatir kepadanya. Mas Azzam seolah mengetahui situasi hatiku. Ia menggenggam tangan yang lemah ini lalu mendekapku begitu erat.
“Wallahi, Mas sayang sama kamu Adiba. Apapun yang terjadi, Diba harus tetap tegar, jadi akhwat yang tangguh. Sekarang sudah tidak ada alasan lagi untuk bersedih. Allah telah mengirim kita ke tanah jihad, Allah telah menjual surganya kepada kita, kita beli dengan mengorbankan jiwa ini, tubuh ini, harta ini dijalan-Nya. Disini di Palestina.” Kata-kata itu membuat butir-butir air dimataku tak sanggup lagi terbendung. Rasanya berat membiarkan Mas Azzam pergi dariku, mengingat Ummi dan Abi sudah pergi lebih awal menghadap sang pencipta. Mas Azzam adalah harta kedua yang paling berharga, setelah Al-Qur’an pemberian Ummi yang aku punya di dunia ini.
“Mas Azzam harus janji, bakal temuin lagi Diba disini.” Jawabku.
“InsyaAllah, kalaupun Mas tidak kembali, saksikanlah bahwa Mas telah mati syahid. Semoga kita dipertemukan di surga-Nya. Jangan khawatir, toh setiap orang sama akan mengalami yang namanya kematian, yang membedakan adalah dalam keadaan apa kita mati?Dalam keadaan maksiat kah atau berjihad? Dan Mas lebih memilih yang kedua. La tahzanadikku, innallaha ma’ana” Jawabnya mantap, dihiasi senyum damai dari bibirnya.
Mas Azzam melepaskan pelukannya. Perlahan Ia melangkahkan kaki, pergi menjauh dari hadapanku, dia berjalan begitu kokoh seolah punggungnya ringan tanpa beban, meninggalkanku begitu saja tanpa rasa iba. Tekadnya begitu kuat, terlihat kobaran semangat dari setiap langkahnya dan terpancar rasa cinta terhadap Allah, Rasul dan saudara seiman dari hatinya.Aku terus memperhatikan langkah demi langkah itu, sampai Ia tak dapat terlihat lagi dari jarak pandangku.
Kini dia telah pergi, mungkin tak akan pernah kembali atau mungkin akan bersama lagi, entah itu di surga atau disini. Rasa sepi datang menyelimuti diri, tapi setidaknya disini ada aku dan Al-Qur’an pemberian Ummi harta terbaikku yang selalu menemani.
Pagi itu, aku mulai beraktivitas. Berjalan dari Wisma rakyat Indonesia,yang menjadi tempat tinggal para relawan asal Indonesia ke RSI, untuk membantu mengobati korban serangan rudal yang diluncurkan Israel beberapa hari lalu. Jaraknya yang tidak begitu jauh, hampir tidak pernah membuatku merasa lelah, apalagi diiringi dengan mengulang hafalan Al-Qur’anku disetiap langkahnya, hal itu malah membuatkusemakin bersemangat dan menambah energi.
Sesampainya disana, sungguh sangat miris. Darah berceceran dimana-mana, usus yang terburai, tubuh tanpa kaki dan tangan, bayi-bayi yang terbujur kaku tanpa nyawa. Rasanya ingin menjerit menyaksikan pemandangan yang sangat memilukan ini. Keahlianku di bidang medis, tak kubiarkan sia-sia. Aku dengan sangat gerak cepat namun tetap hati-hati membantu korban-korban kekejaman Israel itu.
Satu bulan setelah Mas Azzam pergi, aku masih baik-baik saja. Allah belum memanggilku untuk menghadapnya, walaupun serangan roket, rudal dan bom Israel terus menghujani Palestina. Tapi, terdengar kabar buruk. Israel meluncurkan serangan dahsyat ke tepi barat jalur Gaza dengan roket dan senjata yang dilarang oleh dunia internasional, yakni roket dengan bahan peledak logam berat yang ditembakan dari pesawat tempur dan helikopter.Sehingga banyak gedung-gedung yang hancur dan banyak pula memakan korban jiwa, termasuk pasukan tentara. Pikiranku langsung tertuju pada Mas Azzam yang sedang berada disana. Perasaan tidak karuan. Sedih, cemas, gelisah, bercampur menjadi satu. Aku membayangkan tubuhnya hancur bersama kepingan bom, darah segar mengalir dari tubuhnya.
“Astagfirullah,” Aku terus beristigfar, demi mendapat ketenangan hati dan menghilangkan pikiran buruk akan keadaan Mas Azzam. Aku ambil sahabat karibku, Al-Qur’an. kubuka halaman demi halamanya. Huruf hijaiyah yang saling menyambung menjadi sebuah syair-syair yang memiliki makna begitu indah, terus ku baca dengan tartil dan nada lantunan merdu.
Tapi, tiba-tiba lidah ini kelu ketika membaca surat al-imran ayat 169-170, yang artinya:
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapatkan rezeki. Mereka dalam keadaan gembira hati terhadap orang-orang yang masih tinggaldi belakang mereka yang belum menyusul, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”
Aku menangis haru bahagia setelah selesai membaca ayat ini. Seolah Allah sedang menghiburku dengan syairnya. Kini hatiku semakin tenang.Aku mengikhlaskan Mas Azzam, namun tetap mendoakannya yang terbaik. Gugur atau tidak, aku percaya Allah akan selalu berada di sisinya. Al-Qur’an selalu menjadi kunci jawaban dari setiap permasalahan yang menimpaku. Pengobat hati, penenang jiwa. Oleh karena itu, aku dan Al-Qur’an tidak mau terpisahkan. Dulu ketika Ummi menghadiahkan Al-Qur’an ini,di hari miladku yang ke-15, aku tidak merasa senang. Karena ketika umur 15 tahun, aku sudah hafal semua isi Al-Qur’an. Jadi, aku rasa tak perlu lagi memilikinya. Tapi, sekarang Aku tau maksud Ummi membekali anak-anaknya sebuah Al-Qur’an, agar hidupnya tidak tersesat, agar selalu menemukan petunjuk. Al-Qur’an tidak cukup untuk di hafal, namun harus di pelajari pula maknanya.
Seperti biasa, pada pagi hari aku melakukan rutinitas. Pergi ke RSI dengan berjalan kaki. Sesampainya disana, keadaan RSI berbeda dari biasanya, kini semakin parah. Setelah kejadian serangan roket dahsyat Israel itu, jumlah korban meninggal dan luka-luka meningkat tiga kali lipat dari biasanya. Hal itu membuat relawan medis sibuk dan kewalahan. Berankar berseliweran dimana-mana. Aku sibuk mengobati korban yang terluka parah.
Seketika aku melihat seorang pria berseragam HAMAS, yang wajahnya sudah tidak asing lagi bagi pandanganku. Dia terkulai lemas di atas brankar dan ada tiga orang perawat yang mendorongnya masuk ke sebuah ruang unit gawat darurat.
“Mas Azzam?” Tanyaku kaget dalam hati. Ingin rasanya langsung menghampiri pria yang aku anggap Mas Azzam itu, tapi aku tidak bisa meninggalkan tanggungjawab; mengobati pasien-pasien ini. Aku berusaha semaksimal mungkin menyelesaikan tugasku dengan baik.
Setelah semua korban selesai aku tangani. Perlahan aku berjalan menuju ruangan dimana orang yang aku anggap kakakku itu dibawa. Aku takut kecewa, karena mungkin anggapan ini salah. Tapi, yang terjadi adalah keajaiban. Laki-laki yang terbaring lemas itu, dia adalah Mas Azzamku, harta terindah dalam hidup.
Aku berlari untuk merangkul tubuhnya yang terkulai.
“Allahuakbar! Mas, Mas Azzam?” Aku merangkulnya erat. “Apa yang terjadi Mas?” Airmata bahagia terurai lembut di pipiku.
“Adiba.” Sapanya dengan suara parau. Senyum yang damai menyungging di bibirnya.
“Iya mas ini Adiba, apa yang sakit? Sebelah mana?” Aku memeriksa tubuhnya, hampir tidak ada yang terluka.
“ Mas tidak apa-apa Diba, hanya saja tenggorokan Mas sakit, kekurangan cairan dan kulit perut Mas ngilu akibat tindihan batu besar.” Katanya sedikit merintih. Aku sungguh tidak sanggup melihat kakakku menahan sakit seperti itu.Jika bisa digantikan, lebih baik aku yang merasakannya. Aku beranjak dari tempat duduk hendak membawakan air minum untuk Mas Azzam, namun Ia menahannya.
“Jangan beranjak dulu, Mas mau menceritakan keajaiban Allah di bumi jihad ini padamu, agar bertambah keimanan dan ketakwaanmu kepada-Nya.” Bercerita penuh semangat, namun masih dengan suara parau.
“Sudahlah Mas, nanti saja. Kalau sudah sembuh, ceritanya.” Jawabku khawatir. Namun Ia terus bercerita.
“Waktu itu Mas masih ingat, Mas mengumandangkan takbir tiga kali dengan lantang, tapi tiba-tiba saja pasukan Israel menangkap Mas. Setelah itu, Mas dibawa ke tempat paling terpencil yang tidak terjamah manusia, tidak tau itu dimana. Disitu Mas dibaringkan di bawah terik matahari. Kemudian perut ini ditindih batu besar.Seperti merasa kurang puas, sebelum mereka pergi meninggalkan Mas, mereka menembakan peluru ke arah dada sebelah kiri. Tapi heran, tak ada darah mengalir disana, bahkan merasa sakitpun tidak.” Ia menghentikan sejenak ceritanya, air mataku tak berhenti mengalir mendengar kisah itu.
“Seketika saja Mas teringat Bilal bin rabah, sahabat rasulullah yang ditindih perutnya dengan batu. Namun Ia tetap teguh dengan keyakinannya kepada Allah, sehingga Allah mengirimkan Abu bakar  dan Ia terbebas dari penderitaannya. Mas terus bertasbih, mengulang hafalan dari surat Al-baqarah hingga surat An-Nas. Berharap pertolongan itu datang. Dua hari Mas terkapar dengan batu di atas perut, akhirnya Mas tidak sadarkan diri. Begitu sadar,sudah ada disini, entah siapa yang membawa. Mas teringat peluru yang orang Israel itu hantamkan ke dada kiri ini. Mas heran, kemana peluru itu menembus? Setelah diperiksa, pelurunya tersangkut di dalam Al-Qur’an pemberian Ummi yang Mas simpan disaku baju sebelah kiri. Peluru itu merobek cover Al-Qur’an pemberian Ummi, Diba. Mas sedih, tapi bahagia. Allah telah mengirimkan Abu bakar, penolong untuk Bilal. Sedangkan untuk Mas Azzam Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai pelindung.”Ku tatap Al-Qur’an robekdengan peluru yang masih utuh itu, akutersentuh, lagi-lagi kupeluk Mas Azzam dengan sangat erat.
“Ini kisah yang indah antara kita, Al-Qur’an dan bumi jihad Mas.” Kataku haru
“Makannya jangan khawatirin Mas terus.” Godanya, sambil mencubit gemas pipiku.

“ Harus ingat surat Muhammad ayat 7. Jika kau menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong dan meneguhkan kedudukanmu.” Suara paraunya itu menyayat hatiku.



BIODATA PENULIS
Pemilik nama lengkap Irma Wanti ini, Lahir di Garut, pada tanggal 19 Desember 1995. Aktivitas sehari-harinya, menjadi mahasiswa D3 Teknik Komputer di Telkom University. Perempuan dengan Hobby membaca, nulis, dan menyanyi ini, tinggal di : Komplek GBA3 blok A13 No 15A Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Dapat dihubungi melalui Nomor telp: 082240118694. Email: naimaadiba@yahoo.com,Facebook: Irma Wanti ID LINE: imairma19. Motto Hidup “Fighting until the last minute.”

Minggu, 21 Agustus 2016

Nama ku addy

0

Nama ku addy,
Mungkin semua orang tidak mengenal siapa saya, mungkin ada beberapa yg mengenal saya, dan mungkin ada juga yg membenci saya.
Saya ingin menceritakan sedikit pengalaman dr hidup saya.
Tahun 2007,saya mulai masuk ke sekolah menengah pertama, disanalah saya bisa bermain dengan teman-teman baru. Mengenal hal baru. Bahkan mengenal CINTA pertama ku. Nama nya Dessy dia adalah cinta pertama ku. Tapi sepertinya cinta ku tidak seperti yg aku harapkan, karena dia lebih pintar dr saya dan itu membuat saya jadi minder. Setiap hari ku jalani hari hari seperti biasa,pagi berangkat kesekolah, pulang sekolah langsung bermain,saat itu aku tinggal bersama nenek saya, karena ke dua orang tua ku bekerja di surabaya, kadang saat itu aku merasa butuh perhatian dr ke dua orang tua saya dan pada akhirnya aku menjadi anak yg nakal, bukan berarti nakal yg sesungguhnya, nakal ku masih sekedar wajar saja, saat itu malam hari terasa sunyi aku berada di bawah pohon sawo untuk sekedar duduk tiba tiba aku merasa bahwa aku benar benar sendirian tidak ada siapapun yg dekat dengan saya. Aku mencoba untuk masuk ke kamar dan memejamkan mata ku tapi mata ku tidak mau terpejam. Pikiran ku sedang kacau.aku tetap terjaga hingga pagi tiba. Seperti biasa aku pergi kesekolah dg menaiki sepeda
Kriiiiing bel tanda masuk telah berbunyi. Aku telat, guru BK datang menyapa ku dan memberikan hukuman pada ku atas keterlambatan ku
Setelah di hukum saya langsung masuk ke kelas ku. Saat itu jam mata pelajaran komputer. Setelah membahas sedikit materi akhir nya kita praktek. Itulah pertama kali nya aku memegang komputer. Tangan ku sampai gemetaran di buatnya. Tugas pertama yg di berikan adalah membuat email dan facebook. Saya berkata pada diri saya sendiri ternyata membuat email dan facebook itu sulit ya..... Ku melirik ke meja sebelah ternyata itu meja nya dessy ku melihat dia sudah menyelesaikan tugas nya dengan benar, tentu saja saya tidak mau kalah dengan nya aku mencoba lagi dan lagi tapi hasil nya tetap sama ku tidak bisa sejak saat itu ku bertekad akan melampaui nya, tak terasa besok sudah ujian kenaikan kelas, tentu saja aku sangat bersemangat karna ku ingin membuktikan kalau ku bisa melampaui orang yg aku cintai, singkat cerita nya ujian telah usai dan seminggu lagi adalah penerimaan rapot, di sela sela hari penerimaan rapot ada program sekolah, spt lomba sepak bola antar kelas, lomba voly, dan masih banyak lagi, setiap hari ku selalu menatap nya dr kejauhan. Ku bertanya pada hati ku,apa dia sudah memiliki kekasih,?  Beribu pertanyaan ada di kepalaku.

Next post

Senin, 21 Desember 2015

Aku Memilih Bersahabat

1

“Oke, ke depan, jalan terus.. Kamu jangan buka mata ya!”
“Kita mau ke mana sih Rick?”
“Sekarang buka mata kamu!” Feni membuka matanya.
“Selamat ulang tahun Fen!” ucapku sambil memegang kue ulang tahun. Feni tersenyum gembira, aku mengambil korek api dan menyalakan lilin yang berangka 16.
“Make a wish dulu, Fen” aku menyuruhnya, Feni pun memejamkan mata sambil tersenyum, ia membuka mata kemudian meniup lilin.
“Kamu minta apa coba?” tanyaku sambil menyenggol tangan Feni, “Aku minta habis ini, aku ditraktirin makan, hahaha” jawabnya sambil tertawa, dan aku pun ikut tertawa.
Malam ini, aku sengaja merayakan ulang tahun Feni di cafe, suasana yang tenang, dan wajah Feni yang bersinar karena terkena cahaya lilin-lilin di atas meja, seakan terlihat cantik bagiku. Beberapa orang yang lewat pun, serasa hanya angin lewat saja, malam ini benar-benar hanya milik kami berdua. Di saat suasana lagi tenang, dan aku lagi makan sama Feni sambil bercanda gurau, tiba-tiba Feni mengalihkan pembicaraan yang membuat aku tidak suka dengan hal ini.
“Eh Rick” Feni memanggil.
“Iya Fen?” jawabku.
“Kamu mau tahu gak?”
“Apa?” aku mengerutkan dahi, penasaran.
“Ferdy tadi ngebbm aku loh, ahh aku seneng banget” ucap Feni dengan nada yang heboh.
Feni yang gembira saat itu, sedangkan aku, tidak. Perasaan aku tiba-tiba menjadi sedih, kenapa saat-saat aku sedang bersama Feni, selalu saja membahas tentang Ferdy. Ferdy, adalah orang yang disukai Feni, aku terkadang pura-pura ikut senang melihat Feni dekat dengan Ferdy, tetapi sebenarnya tidak, aku cemburu, aku sedih, kamu tidak tahu yang sebenarnya Fen. Aku terdiam saat Feni selesai menceritakan hal itu. Lamunanku hilang saat Feni memanggilku.
“Erick? Rickk… Kok kamu diam sih? Gak ngerespon aku?” ucap Feni dengan nada sedikit kesal.
“Eh iya, maaf Fen. Oh baguslah kalau Ferdy ngebbm kamu, pasti kamu senang kan?” aku mencoba tersenyum, agar Feni tidak tahu apa yang sedang aku rasakan.
“Iyaa.. pasti dong” jawab Feni senang.
“Kamu senang, aku juga senang Fen” ucapku dalam hati.
Besoknya, sekolah tiba-tiba menjadi heboh. Dengan kabar Ferdy menyatakan cinta dengan Feni. Aku yang baru sampai di sekolah, tidak tahu jelas kabar itu, aku hanya mendengar sedikit samar-samar pembicaraan mereka saat aku melalui beberapa teman dari kelas lain yang sedang membicarakan hal itu di pintu gerbang. Aku mencoba bertanya, kepada Andi, yang ada di situ, “Hey Ndi, ada apa? Kok pagi-pagi udah heboh, ada berita apa?” Tanyaku.
“Eh bro, masa lo gak tahu sih, lo kan sahabat terdekatnya Feni. Itu si Feni, baru ditembak sama Ferdy” jawab Andi.
Setelah mendengar itu, aku langsung berlari bergegas ke kelas untuk menemui Feni, Feni biasanya jam segini sudah berada di kelas. Sesampai di depan pintu kelas, dengan napasku yang terengah-engah, aku melihat Ferdy duduk di samping Feni, dan dikerumuni oleh anak-anak yang berada di kelas, aku merasa mereka baru saja melihat adegan yang sangat romantis. Napasku yang terengah-engah seakan berubah menjadi sesak dibuatnya, aku memasuki kelas dengan langkah yang sangat pelan dan pandangan yang kosong, aku mendekati Feni.
“Eh Erick! Kamu baru sampai? Kok kamu lemah gitu sih? Kamu sakit?” tanya Feni.
Aku tak menghiraukan pertanyaan yang hanya basa-basi dari Feni, ah di saat seperti itu dia yang barusan ditembak oleh orang yang dia suka, pasti dia tidak akan mempedulikan siapa pun. Hatiku pun sudah dibuat sakit olehnya. Aku tidak perlu bertanya, pasti Feni menerima pernyataan cinta dari Ferdy.
“Selamat ya Fen.” ucapku datar sambil tersenyum.
“Makasih ya Rick.” jawabnya.
Aku langsung pergi ke tempat dudukku yang di belakang, aku menaruh tas dan terdiam, aku mencoba berpikir. Aku memang tak akan pernah bisa memiliki Feni, walaupun aku selalu berada di belakang Feni, tapi Feni tak pernah menoleh ke arahku, Feni hanya menganggapku sebagai sahabat. Sahabat, bahkan tidak lebih. Memang, cinta tak harus memiliki.
“Tuhan, bantu aku menyimpan perasaan ini..” ucapku dalam hati sambil menghela napas panjang.
Cinta tumbuh karena persahabatan. Dan biarlah aku menjalani hari-hari sebagai sahabatnya Feni, dan aku simpan perasaan ini. Karena bersahabat itu lebih baik dari berpacaran bukan? Ya, aku harus bisa bersahabat, harus bisa. Toh, aku juga gak mau nantinya jika hubungan persahabatan aku sama Feni hancur hanya karena Cinta. Dan aku Erick, akan selalu bersemangat.
Selesai

Kamis, 12 November 2015

Bertahan denganmu

0


mungkin banyak cewek yang berprinsip "dia aja gak bales chat aku, ya udah aku chat sama orang lain ajha.."
tapi prinsipku berbeda dengan cewek lain.
ketika dia yang jauh di sana, aku berusaha tidak chat dengan cowok lain, atau bahkan jalan berdua. ketika dia berusaha keras menata masa depannya, aku bakal menunggu kabar dari dia. Selalu berusaha berfikir positif, kalau dia gak ngabarin, berarti dia memang sibuk dengan urusannya. Dan kalau memang aku prioritasnya, dia pasti kasih kabar ke aku walaupun hanya sekali atau dua kali.
kalau, seharian dia benar-benar menghilang tanpa jejak, aku selalu mencari kesibukan sendiri buat mengisi waktuku. Aku gunakan waktuku untuk memperbaiki diri. Mendoakan dia di setiap selesai sholatku. bukan menanggapi cowok-cowok ganjen yang sukanya nikung.
 bukan aku cewek bodoh yang mau menunggu dan terus menunggu akan kabar dia. tapi, aku percaya bahwa dia menyiapkan yang terbaik buat masa depannya atau bisa jadi masa depan kita. Hubungan yang berkomitment itu bukan yang tiap hari chat, tiap hari telfon. Tetapi hubungan yang berkomitment itu hubungan yang selalu mendoakan kebaikan kita, yang selalu mendukung kita ke jalan yang benar, walaupun dia tidak pernah hadir di kala aku menangis, atau sedih. Tapi, dia selalu mengusahakan 1minggu sekali dia mengabariku dan memberikan kebahagian untukku.
aku bertahan karena, aku percaya bahwa masa depanku akan lebih baik denganmu.

special one : Adisurya

Kamis, 29 Oktober 2015

HAY.. SOBAT!

0

mungkin aku hanya mampu mengetik kata demi kata di sini. Karena, aku tak mampu untuk mengutarakannya..
Hay sobat,, terakhir kita berbicara tentang seorang wanita yang dekat dengan kamu.
Tetapi itu mungkin akan menjadi pembicaraan terakhir kita. Masih teringat jelas bagaimana bohongnya kamu untuk menyembunyikan status hubungan kamu dengan wanita itu. Karena, kamu takut itu akan menyakitiku. 
Hay sobat,, aku bukanlah seperti dulu. Yang selalu membutuhkan pundakmu untuk membuatku tersenyum. Bukan yang selalu membutuhkanmu untuk menyelesaikan masalah-masalahku. Aku telah mampu berdiri dengan tegap tanpa hadirnya dirimu di belakangku.
hay sobat,, aku tak akan terluka jika kamu dengan wanita itu. Aku bahkan bahagia karena, kau telah menemukan kebahagian dengan wanita lain. Jujur, sempat luka ini menggores. Tetapi tidak sesakit 2tahun yang lalu. Aku tak ingin mengingatnya kejadian itu. Cukup aku yang merasakan sakitnya. 
sobat,, jagalah wanita itu. Jika memang memang kemarin pembicaraan kita yang terakhir tak apalah. Yang jelas membuatmu bahagia itu sudah lebih dari cukup untuk meninggalkanmu dengannya.

Isi hati dari Dessy Nur Indahsari

Selasa, 27 Oktober 2015

Perasaan Yang Mampir Sejenak

0

Perasaan Yang Mampir Sejenak

Malam mulai tiba langit pun mendung pertanda akan turun Hujan di malam ini.
“malam ini pasti bakal lebih dingin lebih baik ku buka chatting.” pikirku.
Aku pun langsung masukkan akun dan kata sandi. Ku lihat beberapa pesan di wall chatt-ku tapi aku tertarik pada 1 pesan, yah orang tak ku kenal mengirimku pesan.
“hay, boleh kenal?” Sapanya.
“yah, boleh.” Jawabku singkat.
“boleh ku minta nomor hp-mu soalnya di sini jaringan lagi susah.” Pintanya.
Entahlah aku tipikal cewek yang susah memberikan nomor hp-ku tapi tiba-tiba ku merespon pintanya.
“yah, boleh.”
Mentari pagi telah tersenyum manis dan burung-burung mulai berkicau pertanda hari telah berganti. Kebiasaan yang sulit ku buang jauh-jauh. Jika bangun tidur adalah pertama kali hp yang ku cari. Ku cari kesana-kemari namun tak ku temukan hp-ku dan hingga ku acak-acak tempat tidurku ternyata di bawah bantalku hehe.. Maklum saja perempuan asal taruh. Ku lihat 1 pesan di layar hp-ku ternyata dari cowok yang semalam. Ternyata dia cowok yang asyik buat diajak bercanda sungguh dia mampu menarik hati ini.
Tak disangka waktu cepat berlalu yah aku mulai menyukainya meskipun jarak aku dan dia jauh. Yah Wahid namanya dia tinggal di kota solo dan aku tinggal di sini. Semakin lama rasa sayang ini semakin dalam padanya. Namun sudah beberapa hari terakhir ini tak ada sedikit kabar pun dari dia aku sangat merindukan dia. Hingga aku berniat menelponnya. Nomornya aktif aku sangat bahagia.
“hallo, ini Wahid?” sapaku.
“yah, tri ada apa malam-malam meneleponku?” ucapnya.
“tidak ada apa-apa hanya beberapa hari ini tak ada sms dari kamu aku takut kamu kenapa-kenapa!” Kataku khawatir.
“oh, ya maaf aku kemarin sibuk dengan pacarku.” katanya.
Setelah mendengar penjelasaannya beberapa hari tidak memberiku kabar ternyata dia telah mempunyai kekasih. Betapa hancur hatiku saat ku tahu itu. Tuhan… aku ingin menangis andikan dia tahu betapa aku mencintainya mengapa dia tidak mengerti dengan perasaan ini. Semalaman aku tak sanggup memejamkan mataku hanya dia yang ada di pikiranku mengapa dia setega itu padaku.
Hari pun berganti kini aku masih memikirkannya. Entahlah dia terus menari-nari di pikiranku, aku berusaha merelakan dia namun sulit untukku lakukan. Hingga siang hari ini selalu dia yang terbayang. Tiba-tiba handphone-ku berbunyi tanda ada 1 pesan ku lihat darinya yah dia mengapa mesti hadir kembali.
“mengapa semalam kamu menutup telepon tanpa salam, apa kamu marah padaku, sebenarnya ada yang ingin ku katakan padamu kalau aku menyukaimu. Namun jarak yang membuat aku tak bisa memilihmu.” sms darinya sedikit mengobati perasaan sedihku betapa senangnya saat ku tahu cinta ini tak bertepuk sebelah tangan.
“aku juga menyukaimu maafkan aku yang jauh.” kataku.
Ku tunggu balasan darinya namun tak kunjung ada mungkin dia hanya ingin mengungkapkan perasaannya padaku. Wahai engkau yang jauh di sana aku berdoa pada Tuhan agar kita dapat bertemu kembali dan benar-benar menjalani cinta ini. Karena sampai saat ini aku sulit melupakanmu. Ku harap engaku juga.
Cerpen Karangan: Tri yanuariyanti
Facebook: Thriy Pgndz DcynkNdz’chintha

Senin, 26 Oktober 2015

Tega

0

Namaku Luna. Aku selalu Galau. Kenapa? Lihat saja, orang yang aku cintai tidak mencintaiku. Aku hanya bisa diam membisu ketika bersamanya dan pacarnya. Lebih tepatnya, aku hanya sahabatnya yang berguna untuk kehidupannya namun tidak lebih. Namanya Raka. Aku sangat sayang sekali sama dia. Tapi, apakah dia sayang sama aku? mungkin, jawabannya tidak!
“hai” sapaku kepada Raka.
“hai juga” Raka membalas sapaanku sangat singkat.
“Gea ke mana?” tanya Raka. Uhhh. Gea lagi. Gea lagi! emangnya gak ada nama selain Gea?
Aku berjalan menuju rumah di seberang sana. Rumahku berdekatan dengan sekolah. Ku lihat Raka sedang berbincang dengan Gea di seberang sana.
“uhh. Mereka selalu lengket kayak perangko!” ujarku lemah.
Ku lihat sosok di sana seperti melambai. Sangat jelas sekali ketika dia memanggil namaku, “Lun, sini.” ujar Gea.
Aku risi sendiri. Aku, ke sana? palingan nanti jadi nyamuk! Ketika sempat menolak, akhirnya aku menghampiri mereka.
Tega sekali dia! Lihat mata aku berkaca-kaca! kamu gak ngerti banget perasaan aku hah! puas kamu bikin aku nangis? aku tahu, aku gak secantik kamu! aku hanyalah seorang gadis SMA yang berkepang dua dan memakai kacamata, memang aku cupu! tapi, apakah seorang gadis cupu selamanya sendiri? cupu juga manusia kan? Aku menyesal menghampiri Raka dan Gea. Kenapa? mereka mengajakku untuk menghampiri mereka hanya untuk menunjukkan betapa mesrahnya mereka. Itu sangat menyakitkan. Sudahlah Gea! Aku gak suka lihat itu.
“tumben gak sama Raka?” kata Danu, dia teman yang paling menyebalkan dalam hidupku.
“apaan sih! please aku cape nanganin orang gila kayak kamu” kataku langsung meninggalkan dia.
Aku benci dia. Benci datang dari hatiku. Bukan karena perbuatannya, tapi karena keegoisanku setiap melihat dia. Huhh! gak suka sama dia.
Gea datang, semakin dekat dan akhirnya ada di hadapanku. Aku hanya bisa terbujur kaku ketika memberi sepucuk surat dari Raka kepadaku
“hey! kau sahabat sejatiku! datang yah! pleaseee.. ke hari jadi aku dan Gea di taman nanti sore!”
“surat tak berguna” kataku sambil menyobek surat itu.
Aku tak perlu menghadiri pesta kecil itu. Toh, aku ada dan tidak ada pun tak akan berguna di mata Raka dan Gea. Sudah cukup! aku ingin pergi dari kehidupannya! aku ingin melupakan sosok Raka yang tega membiarkan aku gila sendiri olehnya.
Pagi-pagi sekali aku ke rumah Raka. Jam 7, pagi sekali kan? ini hari minggu. Kotak pos di rumah Raka kosong. Ku taruh surat untuknya di kotak mungil itu. Sungguh! ini sangat menyakitkan.
“hey! kamu Luna?” tanyanya sambil meraih piyama miliknya di atas kursi.
“apa ini?” kata Raka. Dia lansung membaca surat milik Luna.
“jika ada seseorang yang menyuruhku untuk memilih antara kamu dan bulan, aku lebih memilih kamu. Kenapa? bulan hanya bisa menemaniku pada malam tiba. Sementara kau? selalu menemani hariku setiap hari. Kau bagaikan seseorang yang sangat berharga dalam hidupku. Namun, setelah kehadirannya, kau berubah! aku hanya bisa tersenyum melihat itu semua.
Kau tahu? aku akan pindah sekolah ke sekolah lain. Aku sudah muak dengan tingkah kalian setiap hari yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Dan andai burung bisa bicara, akan ku beri tahu dia bahwa tidak ada sesuatu yang lebih berarti selain mencintai dan menyayangimu.”
Cerpen Karangan: Naila Asya Muhfi
Blog: nailaasyamuhfi.blogspot.com
Facebook : Naila Asya Muhfi II
Nama: Naila Asya Muhfi
Twitter: @nailasyamuhfi
Ig: @nailaamuhfii
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com