Kamis, 22 Desember 2016

ANTARA KITA,AL-QUR’AN, DAN BUMI JIHAD

2

Semilir angin berhembus lembut, menebarkan aroma wangi darah para mujahid di bumi palestina. Kulihat Al-Aqsa merekah tersenyum manis menyambut kedatangan mujahid dan mujahidah dari negara populasi muslim terbanyak di dunia, Negara Indonesia.
Aku merasa sangat tersanjung, karena Allah telah memberiku kesempatan untuk menjadi tentara pembela agama-Nya di bumi  jihad ini.
Laki-laki yang sedari tadi membuat pikiranku sibuk, terlihat cekatan memasukan semua perlengkapan untuk keberangkatannya ke medan perang dan bergabung dengan HAMAS, kelompok gerakan perlawanan Islam terhadap Israel di tepi barat dan jalur Gaza.Dia bergabung dengan HAMAS, sedangkan aku menjadi relawan medisuntuk Palestina di RSI (Rumah Sakit Indonesia). Rumah sakit yang terletak di Bayt Lahiya Gaza utara ini,dibangun sebagai bentuk rasa peduli dan kecintaan rakyat Indonesia kepada Palestina.
Aku berlari kecil menghampiri laki-laki itu.
“Mas Azzam, Al-Qur’annya.” Kataku, sembari menyerahkan Al-Qur’an berukuran kecil yang amat Ia sayangi,  pemberianUmmi ketika Ia milad ke-10 tahun.Sudah hampir 15 tahun Al-Qur’an ini menemani Mas Azzam, walaupun seluruh isi Al-Qur’an itu sudah Ia salin kedalam memorynya dan mampu membaca tanpa harus dilihat, tetapi kemanapun Ia pergi, Al-Qur’an itu harus selalu menemani.Mas Azzam meraihnya dari tanganku, lalu Ia masukan kedalam saku bajunya.
“Syukron.” Katanya singkat dengan air muka yang damai. Tiba-tiba Ia memperhatikan wajahku yang teramat cemas dan gelisah. Hati ini terus dihantui rasa khawatir kepadanya. Mas Azzam seolah mengetahui situasi hatiku. Ia menggenggam tangan yang lemah ini lalu mendekapku begitu erat.
“Wallahi, Mas sayang sama kamu Adiba. Apapun yang terjadi, Diba harus tetap tegar, jadi akhwat yang tangguh. Sekarang sudah tidak ada alasan lagi untuk bersedih. Allah telah mengirim kita ke tanah jihad, Allah telah menjual surganya kepada kita, kita beli dengan mengorbankan jiwa ini, tubuh ini, harta ini dijalan-Nya. Disini di Palestina.” Kata-kata itu membuat butir-butir air dimataku tak sanggup lagi terbendung. Rasanya berat membiarkan Mas Azzam pergi dariku, mengingat Ummi dan Abi sudah pergi lebih awal menghadap sang pencipta. Mas Azzam adalah harta kedua yang paling berharga, setelah Al-Qur’an pemberian Ummi yang aku punya di dunia ini.
“Mas Azzam harus janji, bakal temuin lagi Diba disini.” Jawabku.
“InsyaAllah, kalaupun Mas tidak kembali, saksikanlah bahwa Mas telah mati syahid. Semoga kita dipertemukan di surga-Nya. Jangan khawatir, toh setiap orang sama akan mengalami yang namanya kematian, yang membedakan adalah dalam keadaan apa kita mati?Dalam keadaan maksiat kah atau berjihad? Dan Mas lebih memilih yang kedua. La tahzanadikku, innallaha ma’ana” Jawabnya mantap, dihiasi senyum damai dari bibirnya.
Mas Azzam melepaskan pelukannya. Perlahan Ia melangkahkan kaki, pergi menjauh dari hadapanku, dia berjalan begitu kokoh seolah punggungnya ringan tanpa beban, meninggalkanku begitu saja tanpa rasa iba. Tekadnya begitu kuat, terlihat kobaran semangat dari setiap langkahnya dan terpancar rasa cinta terhadap Allah, Rasul dan saudara seiman dari hatinya.Aku terus memperhatikan langkah demi langkah itu, sampai Ia tak dapat terlihat lagi dari jarak pandangku.
Kini dia telah pergi, mungkin tak akan pernah kembali atau mungkin akan bersama lagi, entah itu di surga atau disini. Rasa sepi datang menyelimuti diri, tapi setidaknya disini ada aku dan Al-Qur’an pemberian Ummi harta terbaikku yang selalu menemani.
Pagi itu, aku mulai beraktivitas. Berjalan dari Wisma rakyat Indonesia,yang menjadi tempat tinggal para relawan asal Indonesia ke RSI, untuk membantu mengobati korban serangan rudal yang diluncurkan Israel beberapa hari lalu. Jaraknya yang tidak begitu jauh, hampir tidak pernah membuatku merasa lelah, apalagi diiringi dengan mengulang hafalan Al-Qur’anku disetiap langkahnya, hal itu malah membuatkusemakin bersemangat dan menambah energi.
Sesampainya disana, sungguh sangat miris. Darah berceceran dimana-mana, usus yang terburai, tubuh tanpa kaki dan tangan, bayi-bayi yang terbujur kaku tanpa nyawa. Rasanya ingin menjerit menyaksikan pemandangan yang sangat memilukan ini. Keahlianku di bidang medis, tak kubiarkan sia-sia. Aku dengan sangat gerak cepat namun tetap hati-hati membantu korban-korban kekejaman Israel itu.
Satu bulan setelah Mas Azzam pergi, aku masih baik-baik saja. Allah belum memanggilku untuk menghadapnya, walaupun serangan roket, rudal dan bom Israel terus menghujani Palestina. Tapi, terdengar kabar buruk. Israel meluncurkan serangan dahsyat ke tepi barat jalur Gaza dengan roket dan senjata yang dilarang oleh dunia internasional, yakni roket dengan bahan peledak logam berat yang ditembakan dari pesawat tempur dan helikopter.Sehingga banyak gedung-gedung yang hancur dan banyak pula memakan korban jiwa, termasuk pasukan tentara. Pikiranku langsung tertuju pada Mas Azzam yang sedang berada disana. Perasaan tidak karuan. Sedih, cemas, gelisah, bercampur menjadi satu. Aku membayangkan tubuhnya hancur bersama kepingan bom, darah segar mengalir dari tubuhnya.
“Astagfirullah,” Aku terus beristigfar, demi mendapat ketenangan hati dan menghilangkan pikiran buruk akan keadaan Mas Azzam. Aku ambil sahabat karibku, Al-Qur’an. kubuka halaman demi halamanya. Huruf hijaiyah yang saling menyambung menjadi sebuah syair-syair yang memiliki makna begitu indah, terus ku baca dengan tartil dan nada lantunan merdu.
Tapi, tiba-tiba lidah ini kelu ketika membaca surat al-imran ayat 169-170, yang artinya:
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapatkan rezeki. Mereka dalam keadaan gembira hati terhadap orang-orang yang masih tinggaldi belakang mereka yang belum menyusul, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”
Aku menangis haru bahagia setelah selesai membaca ayat ini. Seolah Allah sedang menghiburku dengan syairnya. Kini hatiku semakin tenang.Aku mengikhlaskan Mas Azzam, namun tetap mendoakannya yang terbaik. Gugur atau tidak, aku percaya Allah akan selalu berada di sisinya. Al-Qur’an selalu menjadi kunci jawaban dari setiap permasalahan yang menimpaku. Pengobat hati, penenang jiwa. Oleh karena itu, aku dan Al-Qur’an tidak mau terpisahkan. Dulu ketika Ummi menghadiahkan Al-Qur’an ini,di hari miladku yang ke-15, aku tidak merasa senang. Karena ketika umur 15 tahun, aku sudah hafal semua isi Al-Qur’an. Jadi, aku rasa tak perlu lagi memilikinya. Tapi, sekarang Aku tau maksud Ummi membekali anak-anaknya sebuah Al-Qur’an, agar hidupnya tidak tersesat, agar selalu menemukan petunjuk. Al-Qur’an tidak cukup untuk di hafal, namun harus di pelajari pula maknanya.
Seperti biasa, pada pagi hari aku melakukan rutinitas. Pergi ke RSI dengan berjalan kaki. Sesampainya disana, keadaan RSI berbeda dari biasanya, kini semakin parah. Setelah kejadian serangan roket dahsyat Israel itu, jumlah korban meninggal dan luka-luka meningkat tiga kali lipat dari biasanya. Hal itu membuat relawan medis sibuk dan kewalahan. Berankar berseliweran dimana-mana. Aku sibuk mengobati korban yang terluka parah.
Seketika aku melihat seorang pria berseragam HAMAS, yang wajahnya sudah tidak asing lagi bagi pandanganku. Dia terkulai lemas di atas brankar dan ada tiga orang perawat yang mendorongnya masuk ke sebuah ruang unit gawat darurat.
“Mas Azzam?” Tanyaku kaget dalam hati. Ingin rasanya langsung menghampiri pria yang aku anggap Mas Azzam itu, tapi aku tidak bisa meninggalkan tanggungjawab; mengobati pasien-pasien ini. Aku berusaha semaksimal mungkin menyelesaikan tugasku dengan baik.
Setelah semua korban selesai aku tangani. Perlahan aku berjalan menuju ruangan dimana orang yang aku anggap kakakku itu dibawa. Aku takut kecewa, karena mungkin anggapan ini salah. Tapi, yang terjadi adalah keajaiban. Laki-laki yang terbaring lemas itu, dia adalah Mas Azzamku, harta terindah dalam hidup.
Aku berlari untuk merangkul tubuhnya yang terkulai.
“Allahuakbar! Mas, Mas Azzam?” Aku merangkulnya erat. “Apa yang terjadi Mas?” Airmata bahagia terurai lembut di pipiku.
“Adiba.” Sapanya dengan suara parau. Senyum yang damai menyungging di bibirnya.
“Iya mas ini Adiba, apa yang sakit? Sebelah mana?” Aku memeriksa tubuhnya, hampir tidak ada yang terluka.
“ Mas tidak apa-apa Diba, hanya saja tenggorokan Mas sakit, kekurangan cairan dan kulit perut Mas ngilu akibat tindihan batu besar.” Katanya sedikit merintih. Aku sungguh tidak sanggup melihat kakakku menahan sakit seperti itu.Jika bisa digantikan, lebih baik aku yang merasakannya. Aku beranjak dari tempat duduk hendak membawakan air minum untuk Mas Azzam, namun Ia menahannya.
“Jangan beranjak dulu, Mas mau menceritakan keajaiban Allah di bumi jihad ini padamu, agar bertambah keimanan dan ketakwaanmu kepada-Nya.” Bercerita penuh semangat, namun masih dengan suara parau.
“Sudahlah Mas, nanti saja. Kalau sudah sembuh, ceritanya.” Jawabku khawatir. Namun Ia terus bercerita.
“Waktu itu Mas masih ingat, Mas mengumandangkan takbir tiga kali dengan lantang, tapi tiba-tiba saja pasukan Israel menangkap Mas. Setelah itu, Mas dibawa ke tempat paling terpencil yang tidak terjamah manusia, tidak tau itu dimana. Disitu Mas dibaringkan di bawah terik matahari. Kemudian perut ini ditindih batu besar.Seperti merasa kurang puas, sebelum mereka pergi meninggalkan Mas, mereka menembakan peluru ke arah dada sebelah kiri. Tapi heran, tak ada darah mengalir disana, bahkan merasa sakitpun tidak.” Ia menghentikan sejenak ceritanya, air mataku tak berhenti mengalir mendengar kisah itu.
“Seketika saja Mas teringat Bilal bin rabah, sahabat rasulullah yang ditindih perutnya dengan batu. Namun Ia tetap teguh dengan keyakinannya kepada Allah, sehingga Allah mengirimkan Abu bakar  dan Ia terbebas dari penderitaannya. Mas terus bertasbih, mengulang hafalan dari surat Al-baqarah hingga surat An-Nas. Berharap pertolongan itu datang. Dua hari Mas terkapar dengan batu di atas perut, akhirnya Mas tidak sadarkan diri. Begitu sadar,sudah ada disini, entah siapa yang membawa. Mas teringat peluru yang orang Israel itu hantamkan ke dada kiri ini. Mas heran, kemana peluru itu menembus? Setelah diperiksa, pelurunya tersangkut di dalam Al-Qur’an pemberian Ummi yang Mas simpan disaku baju sebelah kiri. Peluru itu merobek cover Al-Qur’an pemberian Ummi, Diba. Mas sedih, tapi bahagia. Allah telah mengirimkan Abu bakar, penolong untuk Bilal. Sedangkan untuk Mas Azzam Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai pelindung.”Ku tatap Al-Qur’an robekdengan peluru yang masih utuh itu, akutersentuh, lagi-lagi kupeluk Mas Azzam dengan sangat erat.
“Ini kisah yang indah antara kita, Al-Qur’an dan bumi jihad Mas.” Kataku haru
“Makannya jangan khawatirin Mas terus.” Godanya, sambil mencubit gemas pipiku.

“ Harus ingat surat Muhammad ayat 7. Jika kau menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong dan meneguhkan kedudukanmu.” Suara paraunya itu menyayat hatiku.



BIODATA PENULIS
Pemilik nama lengkap Irma Wanti ini, Lahir di Garut, pada tanggal 19 Desember 1995. Aktivitas sehari-harinya, menjadi mahasiswa D3 Teknik Komputer di Telkom University. Perempuan dengan Hobby membaca, nulis, dan menyanyi ini, tinggal di : Komplek GBA3 blok A13 No 15A Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Dapat dihubungi melalui Nomor telp: 082240118694. Email: naimaadiba@yahoo.com,Facebook: Irma Wanti ID LINE: imairma19. Motto Hidup “Fighting until the last minute.”
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com